audit log adalah sebuah catatan audit yang secara terstruktur dan masing masing berisi bukti yang berkaitan dan menghasilkan sebuah pelaksanaan sebuah proses bisnis atau sebuah fungsi sistem
AUDIT SISTEM INFORMASI AKADEMIK MENGGUNAKAN
FRAMEWORK COBIT 4.1 (STUDI KASUS IBI DARMAJAYA)
Neni Purwati
Fakultas Ilmu Komputer, Informatics & Business Institute Darmajaya
Jl. Z.A Pagar Alam No 93, Bandar Lampung - Indonesia 35142
Telp. (0721) 787214 Fax. (0721)700261
e-mail : nenipurwati87@yahoo.com / nenipurwati87@darmajaya.co.id
ABSTRACT
Academic Information System Management that is not managed properly will result in low
quality of service, low levels of customer satisfaction / student, so it can affect the level of
stakeholder confidence in the institutions. The foregoing can be addressed by monitoring /
evaluation periodically the implementation SIAKAD. With the monitoring of the
implementation process SIAKAD expected to improve any shortcomings and weaknesses of
the current system become better and in accordance with business objectives institutions.
Methods used are the stages of auditing information systems, namely : Planning,
Fieldwork, Reporting, Follow-up. Tool use is Framework COBIT (Control Objectives for
Information and Related Technology) issued by ISACA (Information Systems Audit and
Control Association). Based on the result of the calculation on any IT processes contained
in the domain of Planning and Organization (PO) and Delivery and Support (DS)
normally located at level 3 (defined process), so that the whole IT can achieve the level of
desired doneness (expected maturity level) in level 4 (manage) then all procedures
required in each process should be met. To achieve level 4 (manage) then each IT process
must have a written standard procedures and communicated to all parties involved in the
academic information system, that is to the managers and users of the system. Such
procedures should be documented and updated periodically. From the results of the gap
between the maturity level of IT governance is now at a level of maturity to be achieved, it
is known in the domain PO and DS priority repairs done at the PO7 (managing IT human
resources).
Keywords: Audit, Information Systems, COBIT 4.1
ABSTRAK
Pengelolaan Sistem Informasi Akademik yang tidak terkelola dengan baik akan berdampak
pada rendahnya kualitas layanan, rendahnya tingkat kepuasan pelanggan/mahasiswa,
sehingga dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan stakeholder terhadap institusi. Hal
tersebut di atas dapat diatasi dengan pemantauan/evaluasi secara periodik terhadap
pelaksanaan SIAKAD. Dengan adanya pemantauan terhadap proses pelaksanaan SIAKAD
Neni Purwati Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014
Informatics and Business Institute Darmajaya 135
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014 Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
diharapkan dapat memperbaiki segala kekurangan dan kelemahan sistem yang sedang
berjalan menjadi lebih baik lagi dan sesuai dengan tujuan bisnis institusi. Metode
Penelitian yang digunakan adalah tahapan mengaudit sistem informasi yaitu : Perencanaan
(Planning), Pemeriksaan Lapangan (Fieldwork), Pelaporan (Reporting), Tindak Lanjut
(Follow Up). Tool yang digunakan adalah Framework COBIT (Control Objectives for
Information and Related Technology) yang dikeluarkan oleh ISACA (Information System
Audit and Control Association). Berdasarkan Hasil perhitungan pada setiap proses TI yang
terdapat dalam domain Planning and Organization (PO) dan Delivery and Support (DS)
pada umumnya berada di level 3 (defined process), agar seluruh TI dapat mencapai tingkat
kematangan yang diinginkan (expected maturity level) di level 4 (manage) maka semua
prosedur yang disyaratkan di tiap proses harus dipenuhi. Untuk mencapai level 4 (manage)
maka setiap proses TI harus memiliki prosedur baku dan tertulis yang disosialisasikan ke
semua pihak yang terlibat dalam sistem informasi akademik, yaitu kepada pengelola dan
pengguna sistem. Prosedur tersebut harus didokumentasikan dan di-update secara berkala.
Dari hasil gap antar tingkat kematangan tata kelola TI saat ini dengan tingkat kematangan
yang ingin dicapai, diketahui pada domain PO dan DS prioritas perbaikan dilakukan pada
PO7 (mengelola sumber daya manusia TI).
Kata Kunci : Audit, Sistem Informasi, COBIT 4.1
1. PENDAHULUAN
IBI Darmajaya merupakan perguruan
tinggi yang menyelenggarakan pendidikan
menggunakan teknologi informasi,
sehingga dibutuhkan penggunaan TI yang
mendukung guna mencapai rencana dan
strategi bisnis IBI Darmajaya.
Sebagai perguruan tinggi yang
memberikan jasa pendidikan, maka sistem
informasi akademik (SIAKAD) memiliki
fungsi yang cukup penting dan merupakan
salah satu pendukung dari pencapaian
sasaran tersebut. SIAKAD merupakan
sebuah sistem yang dikembangkan untuk
mendukung manajemen terhadap jalannya
suatu proses administrasi dan operasional.
SIAKAD IBI Darmajaya terdiri dari
registrasi mahasiswa baru, penjadwalan,
pengisian KRS, pengelolaan administrasi
perkuliahan, nilai mahasiswa, presensi
mahasiswa dan dosen mengajar, dan lain
sebagainya.
Pengelolaan Sistem Informasi
Akademik yang tidak terkelola dengan
baik akan berdampak pada rendahnya
kualitas layanan, rendahnya tingkat
kepuasan pelanggan/mahasiswa, sehingga
dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan
stakeholder terhadap institusi. Dengan
demikian sangat diperlukan untuk
memantau pelaksanaan SIAKAD yang
sedang berjalan untuk memastikan bahwa
pelaksanaan tersebut telah mendukung
tujuan bisnis institusi. Hal tersebut di atas
dapat diatasi dengan pemantauan/evaluasi
secara periodik terhadap pelaksanaan
SIAKAD. Salah satu tool yang dapat
Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014 Neni Purwati
136 Informatics and Business Institute Darmajaya
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
digunakan adalah Framework COBIT.
Dengan adanya pemantauan terhadap
proses pelaksanaan SIAKAD diharapkan
dapat memperbaiki segala kekurangan dan
kelemahan sistem yang sedang berjalan
menjadi lebih baik lagi dan sesuai dengan
tujuan bisnis institusi.
1.1 Tata Kelola TI dan Sistem
Informasi Akademik
1.1.1 Pengertian Tata Kelola Teknologi
Informasi
Sebelum membahas tentang tata
kelola TI akan dikemukan terlebih dulu
tentang definisinya. Definisi/pengertian
tentang tata kelola TI yang diambil dari IT
Governance Institute adalah sebagai
berikut (IT Governance Institute, 2007) :
“Tata kelola TI didefinisikan sebagai
tanggungjawab eksekutif dan dewan
direktur yang terdiri atas kepemimpinan
struktur organisasi serta proses-proses
yang memastikan TI perusahaan
mendukung dan memperluas secara
obyektif dalam strategi organisasi”.
1.1.2 Sistem Informasi Akademik
Sistem Informasi Akademik
(SIAKAD) IBI Darmajaya adalah sistem
informasi yang digunakan untuk
menyediakan informasi bagi kegiatan
akademik terdiri dari registrasi mahasiswa
baru, penjadwalan, pengisian KRS,
pengelolaan administrasi perkuliahan, nilai
mahasiswa, presensi mahasiswa dan dosen
mengajar, dan lain sebagainya.
1.2 Area Fokus Tata Kelola
Teknologi Informasi
Menurut Information Technologi
Governance Institute (ITGI, 2005),
terdapat 5(lima) area penting yang
menjadi fokus dalam tata kelola TI yaitu
keselarasan strategi bisnis dan strategi TI,
penyampaian nilai TI, manajemen resiko,
pengukuran kinerja dan manajemen
sumber daya TI. Setiap area ini
mempunyai standar pengaturan yang
diuraikan dalam panduan COBIT (Control
Objectives for Information and
Technologi). Hubungan kelima area ini
dapat di jelaskan dari area fokus
pengelolaan TI adalah sebagai berikut :
1. Strategic Alignment
Area ini fokus untuk memastikan
adanya keterkaitan antara bisnis
dengan perencanaan TI.
Mendefinisikan, memelihara dan
memvalidasi nilai penggunaan TI
dalam perusahaan. Menyelaraskan
penggunaan TI dengan operasional
perusahaan.
2. Value Delivery
Area ini fokus pada penerapan TI
yang harus memberikan nilai
tambah sejalan dengan strategi
Neni Purwati Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014
Informatics and Business Institute Darmajaya 137
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014 Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
bisnis perusahaan.
3. Resource Management
Area ini fokus pada optimalisasi
manajemen sumber daya TI,
aplikasi, informasi, infrastruktur dan
sumber daya manusia, dimana kunci
utamanya adalah knowledge dan
infrastruktur.
4. Risk Management
Area ini fokus pada memahami
resiko-resiko yang akan dihadapi
oleh perusahaan dalam penerapan
TI, sehingga dapat mengatasi
dampak yang ditimbulkan olehnya.
5. Performance Measurement
Area ini fokus pada memonitor
penerapan strategi, kelengkapan
proyek, penggunaan sumber daya,
dan layanan lainnya, agar sesuai
dengan tujuan dari perusahaan.
1.3 Tujuan Audit
Apabila dilihat dari definisi-definisi
di atas maka dapat disimpulkan bahwa
tujuan audit sistem informasi adalah untuk
menilai apakah pengendalian sistem
informasi telah dapat memberikan
keyakinan yang memadai atas beberapa
faktor berikut :
a. Time (waktu)
Menitikberatkan pada waktu
penyimpanan/pencarian data yang
ada dalam sistem informasi
b. Accuracy (Ketepatan)
Menitikberatkan pada ketepatan
penggunaan / pengolahan data yang
terdapat dalam system informasi
c. Correctness (Kebenaran)
Menitikberatkan pada kebenaran
data yang terdapat dalam system
informasi yang digunakan.
d. Pengamanan Aset
Aset teknologi informasi mencakup
perangkat keras, perangkat lunak,
fasilitas teknologi informasi,
personil, file data, dokumentasi
sistem, dan perangkat lain.
Pengamanan aset yang dimaksudkan
adalah sejauh mana teknologi
informasi dapat memberikan
jaminan kerahasian dan ketersedian
layanan informasi .
e. Integritas Data
Integritas data merupakan konsep
dasar audit sistem informasi.
Integritas data berarti data memiliki
atribut kelengkapan, baik dan
dipercaya, kemurnian, dan
ketelitian. Integritas data tidak dapat
lepas dari pengorbanan biaya.
Apabila organisasi tidak dapat
menjaga integritas data. Keputusan
maupun langkah-langkah penting di
organisasi salah sasaran karena tidak
didukung data yang benar.
Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014 Neni Purwati
138 Informatics and Business Institute Darmajaya
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
f. Efektifitas
Sistem informasi dikatakan efektif
apabila sistem tersebut dapat
mencapai tujuannya. Untuk
menilainya, diperlukan upaya untuk
mengetahui kebutuhan penguna
sistem tersebut. Selanjutnya untuk
menilai apakah sistem menghasilkan
laporan atau informasi yang
bermanfaat bagi user, seorang
auditor perlu untuk mengetahui
karakteristik user berikut proses
pengambilan keputusannya.
g. Efisiensi
Suatu sistem sebagai fasilitas
pemrosesan informasi dikatakan
efisien jika ia menggunakan sumber
daya seminimal mungkin untuk
menghasilkan output yang
dibutuhkan. Pada kenyataannya,
sistem informasi menggunakan
berbagai sumber daya seperti mesin
dan segala perlengkapannya,
perangkat lunak, sarana komunikasi,
dan tenaga kerja yang
mengoperasikan sistem tersebut.
h. Availability
Menitikberat pada ketersediaan data
/ informasi yang dibutuhkan dalam
system informasi
i. Compliance
Menitikberatkan pada kesesuaian
data informasi yang terdapat pada
sistem informasi yang ada.
j. Reliabilty
Menitikberatkan pada kemampuan /
ketangguhan sistem informasi dalam
pengelolaan data / informasi.
1.4 Tahapan Audit
Terdapat beberapa fase/tahapan
proses audit sistem informasi. Banyak
pendapat pakar mengenai fase proses
audit tersebut diantaranya pendapat
Galegos Cs. Audit and Control of
Information Systems yaitu :
1. Perencanaan (Planning)
Tahapan perencanaan, sebagai suatu
pendahuluan, mutlak perlu
dilakukan agar auditor mengenal
benar objek yang akan diperiksa.
Selain itu auditor dapat memastikan
bahwa qualified resources sudah
dimiliki, dalam hal ini aspek SDM
yang berpengalaman dan juga
referensi praktik-praktik terbaik
(best practices). Tahapan
perencanaan ini akan menghasilkan
suatu program audit yang didesain
sedemikian rupa, sehingga
pelaksanaannya akan berjalan
efektif dan efisien, dan dilakukan
oleh orang-orang yang kompeten,
Neni Purwati Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014
Informatics and Business Institute Darmajaya 139
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014 Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
serta dapat diselesaikan dalam
waktu sesuai yang disepakati.
2. Pemeriksaan Lapangan (Fieldwork)
Dalam pelaksanaannya, auditor TI
mengumpulkan bukti-bukti yang
memadai melalui berbagai teknik
termasuk survei, interview,
observasi dan review dokumentasi
(termasuk review source-code bila
diperlukan)
3. Pelaporan (Reporting)
Persiapan (preparation). Pada tahap
persiapan, auditor mulai
mengembangkan temuan-temuan
audit, menggabungkan temuantemuan tersebut menjadi sebuah
laporan yang logis, serta
menyiapkan bukti-bukti pendukung
dan dokumentasi yang diperlukan
tindak lanjut.
4. Tindak Lanjut (Follow Up)
Setelah melaporkan temuan dan
membuat rekomendasi audit,
Auditor IT mengevaluasi berbagai
informasi yang relevan dan
memastikan tindak lanjut temuan
telah dilaksanakan oleh manajemen
tepat pada waktunya.
1.5 COBIT
COBIT (Control Objective for
Information and Related Technology)
menurut IT Governance Institute adalah
sekumpulan dokumentasi best practices
untuk IT Governance yang dapat
membantu auditor, manajemen, dan
pengguna (user) untuk menjembatani gap
antara resiko bisnis, kebutuhan kontrol
dan permasalahan teknis. COBIT
berorientasi pada bagaimana
menghubungkan tujuan bisnis dengan
tujuan TI, menyediakan metric dan
maturity model untuk mengukur
pencapaiannya, dan mengidentifikasi
tanggung jawab terkait bisnis dan pemilik
proses TI. Penilaian capability process
berdasarkan maturity model COBIT
merupakan bagian penting dari
implementasi IT Governance setelah
mengidentifikasi proses kritis TI dan
pengendaliannya, maturity model
memungkinkan gap teridentifikasi dan
ditujukan pada manajemen. Dengan
mengetahui gap tersebut maka selanjutnya
rencana kerja dapat dikembangkan untuk
membawa proses ini sampai dengan
sasaran capability level yang diharapkan.
Dengan demikian, COBIT mendukung
pengelolaan TI dengan menyediakan
kerangka untuk memastikan bahwa :
1. TI berjalan sesuai dengan tujuan
bisnis
2. TI memungkinkan bisnis dan
memakismalkan keuntungan
3. Sumber daya TI digunakan secara
bertanggung jawab
Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014 Neni Purwati
140 Informatics and Business Institute Darmajaya
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
4. Resiko TI dikelola dengan tepat.
COBIT terdiri dari 34 control objective
(tujuan pengendalian) yang tercermin
dalam 4 domain antara lain :
1. Planning and Organisation (PO)
2. Acquitition and Implementation
(AI)
3. Deliver and Support (DS)
4. Monitoring and Evaluation (ME)
1.5.1 Struktur COBIT
Struktur COBIT terdiri dari Excetive
Summary, yang didukung dengan
perangkat implementasi, kemudian
framework yang dijabarkan menjadi 3
bagian yaitu Management Guidelines,
Audit Guidelines, Detailed Control
Objectives. Untuk Management
Guidelines terdapat 4 indikator
pengukuran yaitu Maturity Models,
Control Success Faktor, Key Goal
Indicators, dan Key Performance
Indicators. Sedangkan Detailed Control
Objectives dijabarkan dalam beberapa
Control Practice.
Struktur COBIT dapat dilihat pada
gambar :
Gambar 2.1 Struktur COBIT
(COBIT Audit Guideline, 2000)
1.5.2 Kerangka Kerja COBIT
Keseluruhan kerangka kerja COBIT
dapat dilihat pada gambar, COBIT Proses
model dari empat domain mengandung 34
proses generik, yang mengelola IT
Resources untuk memberikan informasi
pada bisnis sesuai dengan kebutuhan
bisnis dan tata kelola.
Keempat Domain tersebut dapat pula
digambarkan dalam bentuk gambar
dibawah ini yang juga terdapat 34 High
level objectives dan 6 Publikasi.
Gambar 2.2. Overal COBIT
Framework (ITGI,2007)
Neni Purwati Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014
Informatics and Business Institute Darmajaya 141
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014 Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
1.5.3 Maturity Model
Maturity model dimaksudkan untuk
mengetahui keberadaan persoalan yang
ada dan bagaimana menentukan prioritas
peningkatan. Tingkat maturity dirancang
sebagai profile proses TI, sehingga
organisasi akan dapat mengenali sebagai
deskripsi kemungkinan keadaan sekarang
dan yang akan datang. Penggunaan
maturity model yang dikembangkan untuk
setiap 34 proses TI dari COBIT,
memungkinkan manajemen dapat
mengidentifikasi :
a. Kinerja aktual dari perusahaan di
mana posisi perusahaan saat ini
b. Status industri saat ini
perbandingan
c. Target perbaikan bagi perusahaan
ke mana perusahaan ingin dibawa
d. Jalur pertumbuhan yang
diperlukan antara “as-is” dan “to
be”.
Maturity level model ini dapat digunakan
untuk menganalisa kematangan tata kelola
teknologi informasi suatu organisasi. Bila
optimalisasi dilakukan dalam proses
pengelolaan sumber daya teknologi
informasinya, maka akan semakin tinggi
juga tingkat kematangan yang diperoleh.
Selain keenam tingkat tersebut, tingkat
kedewasaan atau kematangan disusun oleh
atribut-atribut sebagai berikut :
1. Awareness and Communication
(AC)
2. Policies, Standards and Procedures
(PSP)
3. Tools and Automation (TA)
4. Skills and Expertise (SE)
5. Responsibility and Accountability
(RA)
6. Goal Setting and Measurement
(GSM)
Model pengukuran maturity dibuat
berdasarkan COBIT terdiri dari :
1. Critical Success Factors (CSF).
CSF adalah merupakan kumpulan
hal-hal yang harus ada atau
aktifitas-aktifitas yang harus
dilakukan untuk memastikan
keberhasilan setiap proses untuk
mencapai tujuannya.
2. Key Goal Indicators (KGI). KGI
adalah ukuran yang digunakan
untuk menunjukkan pencapaian
tujuan dari kendali yang diterapkan
pada setiap proses TI. Menentukan
ukuran yang mengarahkan
manajemen setelah fakta apakah
proses TI telah mencapai kebutuhan
bisnisnya, biasanya digambarkan
atas kriteria informasi :
- Ketersediaan informasi diperlukan
untuk mendukung kebutuhan bisnis
- Ketiadaan atau kekurangan
integritas dan resiko kerahasiaan
- Efisiensi biaya dan operasi
Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014 Neni Purwati
142 Informatics and Business Institute Darmajaya
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
- Konfirmasi reliabilitas
- Efektivitas dan pemenuhan
3. Key Performance Indicators (KPI).
KPI merupakan ukuran yang
digunakan untuk menunjukkan
kinerja setiap proses TI. Menetapkan
ukuran untuk menentukan
bagaimana proses TI dilaksanakan
dengan baik yang memungkinkan
tujuan tersebut tercapai.
Secara singkat dapat diuraikan sebagai
berikut :
- CSF, untuk mendapatkan proses
dalam pengendalian
- KGI, untuk memantau pencapaian
tujuan proses
- KPI, untuk memantau kinerja
dalam setiap proses.
Identifikasi CSF untuk setiap
proses dilakukan melalui pemilihan CSF
generic dari setiap proses dan
membandingkannya dengan tingkat
kematangan 4 pada model maturity
COBIT, sehingga akan diperoleh CSF
yang tepat untuk mendukung setiap
proses berada di tingkat kematangan
ideal yang diharapkan. Selanjutnya
CSF tersebut kemudian digunakan
sebagai acuan untuk menentukan
kriteria pengukuran kinerja (KGI dan
KPI) bagi setiap proses berjalan secara
terkendali sehingga memberikan
jaminan bahwa tujuan pada setiap proses
dapat tercapai. Gabungan dari Faktor
Sukses Kritis (CSF), Indikator Tujuan
(KGI) dan Indikator Kinerja (KPI)
dalam sebuah proses akan membentuk
proses tersebut.
1.6 Teknik Pengolahan Data
1.6.1 Menentukan Jumlah Responden/
Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah
dan karakteristikyang dimiliki oleh
populasi tersebut. Bila populasi besar, dan
peneliti tidak mungkin mempelajari semua
yang ada pada populasi, maka peneliti
menggunakan sampel yang diambil dari
populasi itu. Untuk itu sampel yang
diambil dari populasi harus betul-betul
representatif (mewakili).
Sampel minimal
Rumus : d N P Q
N P Q
s
( )1 ..
. ..
2 2
2
Keterangan : λ
2 dengan dk = 1, taraf
kesalahan bias 1%, 5%,
10%
P = Q = 0,5
d = 0,05
s = jumlah sampel
1.6.2 Menentukan sampel yang terpilih
dari jumlah sampel terpilih
Pada penelitian ini diperlukan
pengambilan data melalui kuisioner yang
akan disebarkan dan memerlukan
Neni Purwati Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014
Informatics and Business Institute Darmajaya 143
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
λ
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
responden yang akan diminta mengisi
kuisioner tersebut sesuai pertanyaan yang
akan diajukan terkait kasus yang diteliti
berdasarkan standar COBIT versi 4.1.
yang bertujuan untuk mendapatkan
informasi secara tertulis dari responden
mengenai tata kelola yang ada di IBI
Darmajaya. Sebuah sampel dibutuhkan
dalam penelitian dikarenakan tidak
mungkin memeriksa semua populasi
untuk diteliti karena keterbatasan waktu,
tenaga dan biaya.
Metode pengambilan sampel dapat
dikelompokan menjadi dua bagian, yaitu
sampel probabilitas (Probability
Sampling) dan sampel non Propabilitas
(nonprobability Sampling), Metode
penarikan sampel probabilitas adalah
suatu metode yang memberikan
kesempatan sama terhadap anggota
populasi untuk menjadi sampel.
Sedangkan metode penarikan sampel non
probabilitas yaitu tidak setiap anggota
populasi memiliki probabilitas yang sama.
Secara skematis metode pengambilan
sampel dapat digambarkan sebagai berikut
:
Gambar 2.3. Metode Penarikan Sampel
Dari jumlah sampel terpilih ditentukan
sampel terpilih dengan menggunakan
metode Probabilitas dengan teknik
Penarikan Sampel secara Cluster (Cluster
Sampling). (Suharyadi, Suyanto SK,
2011).
Penarikan Cluster adalah teknik memilih
sampel dari kelompok-kelompok unit-unit
yang kecil (clister) dari sebuah populasi
yang relative besar dan tersebar luas.
Anggota dalam setiap kluster bersifat
tidak homogeny berbeda dengan anggota
dalam penarikan terstruktur. Anggota
kluster mirip dengan anggota populasi
namun dalam jumlah yang lebih kecil.
Teknik sampling daerah ini sering
digunakan melalui dua tahap yaitu :
1. Menentukan sampel Jurusan dari
populasi
Metode Penarikan
Sampel
Sampel Probabilitas
(Probability Sampling)
1. Penarikan Sampel
Acak sederhana
(Simple Random
Sampling)
2. Penarikan Sampel
Acak terstruktur
(Stratified random
Sampling)
3. Penarikan Sampel
Cluster (Cluster
Sampling)
1. Penarikan Sampel
Sistematis
(Systematic
Sampling)
2. Penarikan Sampel
Kuota (Kuota
Sampling)
3. Penarikan Sampel
Purposive
(Purposive
Sampling)
Sampel Nonprobabilitas
(Nonprobability
Sampling)
Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014 Neni Purwati
144 Informatics and Business Institute Darmajaya
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
2. Menentukan mahasiswa yang ada
pada jurusan tersebut secara
sampling .
Setelah sampel di cluster dilakukan
pemilihan dengan teknik sampling
purposive dengan pertimbangan sampel
sumber datanya hanya pada mahasiswa
yang pintar saja (IPK minimal 3,00).
1.6.3 Teknik Analisa Data Statistik
Kegiatan dalam analisis data
statistik adalah mengelompokkan data
berdasarkan variable dan jenis responden.
Mentabulasi data berdasarkan variable
dari seluruh responden, menyajikan data
tiap variable yang diteliti, melakukan
perhitungan untuk menguji keakuratan
dan kebenaran data.
Penelitian ini menggunakan teknik
analisis data secara kuantitatif serta
menggunakan teknik statistik deskriptif
dengan hasil penyajian berupa tabel dan
ukuran rata-rata kuisioner.
1.6.4 Instrumentasi
Skala yang digunakan dalam
penelitian ini adalah dengan mengacu
skala pada maturity model yaitu skala 1 –
5 berupa jawaban sangat tidak setuju
(STS), tidak setuju (TS), netral (N), setuju
(S) dan setuju sekali (SS).
Penelitian yang akan dilakukan
menggunakan instrument kuisioner yang
mengacu pada COBIT versi 4.1 (ITGI
2007), dengan domain yang akan
digunakan adalah proses PO2, PO7, PO8
dan DS10, DS11.
1.6.5 Indikator Kuisioner
Sesuai metode COBIT pada proses
PO2, PO7, PO8 dan DS10, DS11
memiliki aktivitas sebagai indikator yang
akan diterapkan dalam kuisioner sebagai
berikut :
PO 2 Mendefinisikan Arsitektur
Informasi (Define the Information
Architecture)
PO2.1. Informasi Arsitektur Model
PO2.2. Peraturan Kamus Data
Perusahaan dan Data
Perintah
PO2.3. Pengelolaan Skema
Klasifikasi Data
PO2.4. Tingkat Keamanan
PO 7 Mengelola Sumber Daya Manusia
(Manage Human Resources)
PO7.2. Personil Kualifikasi
PO7.3. Peran dan Tanggung Jawab
PO7.7. Evaluasi Kinerja Kerja
Karyawan
PO 8 Mengelola Kualitas (Manage
Quality)
PO8.1. Sistem manajemen Mutu
PO8.2. Standar IT dan Praktik
Kualitas
Neni Purwati Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014
Informatics and Business Institute Darmajaya 145
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
PO8.3. Pengembangan dan akuisisi
standar
PO8.4. Fokus pada pelanggan
PO8.5. Kegiatan yang berkelanjutan
PO8.6. Pengukuran kualitas,
pemantauan dan review
DS 10 Mengelola Permasalahan
(Manage Problem)
DS 10.1 Permintaan layanan dan
kebutuhan informasi.
DS 10.2 Kecenderungan pengawasan
dan pelaporan.
DS 11 Mengelola Data (Manage Data)
DS 11.1 Kebijakan dan prosedur yang
ada untuk pengelolaan data
yang didasarkan pada
kebutuhan bisnis.
DS 11.2 Pertukaran dan pengelolaan
penyimpanan data
DS 11.3 Peralatan dan keamanan
pembuangan data yang tidak
terpakai
DS 11.4 Data yang mendukung dan
restorasi yang teruji
1.7 Deskripsi Sistem Informasi
Akademik
Manajemen IBI DARMAJAYA
menyadari penggunaan teknologi
informasi mendukung jalannya proses
bisnis organisasi maupun meningkatkan
informasi yang digunakan.
Pemantapan sistem tata kelola dan
sumber daya yang tersedia pada umumnya
sudah menggunakan TI yang ada serta
dapat mengolah data yang dibutuhkan
sehingga menghasilkan informasi yang
berguna bagi setiap pengguna. Sumber daya
yang perlu dikelola oleh organisasi, yaitu:
1. Informasi. Informasi diperoleh
dari hasil pengelolaan data. Data
yang ada berkaitan dengan sistem
informasi layanan akademik dapat
digunakan oleh seluruh bagian yang
terkait dalam organisasi tersebut.
Data yang telah diperoleh belum
diolah secara maksimal karena
belum terdapat suatu manajemen
formal yang mengatur bagaimana
sebaiknya pengelolaan data
tersebut. Hal ini terkait dengan
belum terintegrasinya basis data
yang digunakan sebagai server data,
sehingga terdapat redudansi data.
2. Infrastruktur. Infrastruktur meliputi
fasilitas maupun teknologi yang
ada pada organisasi sebagai
pendukung dalam melakukan
fungsi bisnis utamanya. teknologi
yang digunakan pada umumnya
sudah mengikuti perkembangan
teknologi saat ini dan memiliki
standar baku dalam
penggunaannya sehingga dapat
membantu pengguna dalam
memperoleh informasi yang
Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014 Neni Purwati
146 Informatics and Business Institute Darmajaya
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
berkualitas.
3. Sistem aplikasi. Sistem aplikasi
yang ada sudah memiliki standar
operasi atau prosedur yang baku
dalam penggunaannya. Namun yang
menjadi kendala adalah sistem
aplikasi yang ada belum
terintegrasi secara menyeluruh,
karena masih adanya pandangan
dimana masing-masing bagian kerja
hanya menangani sistem informasi
yang berkaitan dengan bagian
kerjanya saja serta belum
terhubungnya sistem basis data yang
digunakan.
4. Manusia. Sumber daya manusia pada
organisasi sebagian besar dapat
memahami dan menggunakan
aplikasi yang ada serta teknologi
yang tersedia, dikarenakan setiap
penggunaan TI yang baru, maka
organisasi akan mengadakan
pelatihan terhadap penggunaannya,
tetapi penjadwalan tentang
pelaksanaan pelatihan belum
terstruktur dengan baik sehingga
masih ada beberapa staf yang belum
memahami tahap-tahap dalam
menyelesaikan permasalahan.
II. METODE PENELITIAN
2.1. Perencanaan (Planning)
Melakukan studi literatur dan menganalisa
terhadap dokumen IBI Darmajaya yang
berkaitan dengan Visi & Misi, sasaran
atau tujuan, rencana strategis, serta
kebijakan-kebijakan yang terkait dengan
pengelolaan investasi TI IBI Darmajaya.
Pada tahap ini penelitian difokuskan pada
Sistem Informasi Akademik yang ada di
IBI Darmajaya antara lain :
1. Aplikasi penerimaan mahasiswa
baru (PMB) Merupakan aplikasi
bagi mahasiswa baru berupa data
pendaftar, hasil ujian saringan serta
data mahasiswa baru yang mendaftar
ulang.
2. Aplikasi absensi Mahasiswa & Dosen.
Merupakan sistem absensi perkuliahan
mahasiswa serta data pertemuan
perkuliahan dosen.
3. Aplikasi administrasi kemahasiswaan.
Adalah sistem administrasi pendataan
mahasiswa, jadwal perkuliahan dan
data-data yang mengatur pendataan
yang berkaitan dengan kegiatan
belajar mahasiswa.
4. Aplikasi Administrasi Keuangan.
Merupakan sistem administrasi
keuangan berupa data keuangan
mahasiswa serta rekapitulasi
pertemuan dosen guna pendataan
gaji karyawan dan dosen.
Neni Purwati Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014
Informatics and Business Institute Darmajaya 147
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014 Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
5. Aplikasi Pengisian KRS Online
(siakad.darmajaya.ac.id). Merupakan
sistem pengisian rencana studi,
daftar nilai semester, rangkuman
nilai, mahasiswa yang
menggunakan jaringan internet
online.
6. Aplikasi Nilai Mahasiswa. Merupakan
sistem informasi yang digunakan
dosen untuk menginput nilai
mahasiswa.
7. Aplikasi Sistem Informasi online (eLearning). Merupakan sistem
informasi tentang perkuliahan yang
dikenal dengan nama elearning.darmajaya.ac.id, sistem
informasi digital dimana mahasiswa
dapat mendownload materi,
mengupload tugas kuliah dan
informasi kegiatan seputar
akademik.
8. Aplikasi Sistem Informasi online
(darmajaya.ac.id). Merupakan sistem
informasi seputar kampus baik
kegiatan/aktivitas institusi ataupun
kegiatan kemahasiswaan.
Sampai saat ini pengimplementasian
aplikasi tersebut belum pernah di evaluasi,
sehingga belum dapat memastikan
keselarasan dengan tujuan bisnis TI
institusi.
Pelaksanaan evaluasi ini pada dasarnya
melakukan pencarian bukti proses TI yang
ada dalam institusi dengan menyesuaikan
standar proses TI yang didefinisikan
dalam COBIT. Bukti tersebut akan
digunakan untuk melaksanakan
perhitungan standar pelayanan sehingga
dapat temuan yang dapat dijadikan
sebagai bahan pertimbangan dalam
penentuan tingkat layanan sistem
informasi IBI Darmajaya.
Tata kelola teknologi informasi IBI
Darmajaya dikelola oleh Biro
Administrasi Akademik dan
Kemahasiswaan (BAAK) dan Biro ICT
Center.
2.2. Pemeriksaan Lapangan
(Fieldwork)
Penelitian ini bersifat pendekatan
survey. Data yang dipergunakan dalam
penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder yang diperoleh dengan metode
kuesioner tentang pelayanan Sistem
Informasi Akademik (SIAKAD) IBI
Darmajaya dan melalui data-data yang
telah dipublikasikan secara internal dan
dapat dijaga kerahasiaannya.
Description of Maturity Level terdiri dari
6(enam) level(0 sampai 5) yang
menggambarkan tingkat kehandalan
aktivitas-aktivitas pengendalian sistem
informasi yang dirangkum oleh ISACA
dari konsensus berbagai pendapat ahli dan
praktek-praktek terbaik di bidang
Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014 Neni Purwati
148 Informatics and Business Institute Darmajaya
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
teknologi informasi yang bersifat generik
dan telah dijadikan sebagai standar
internasional. Adapun metode yang
digunakan adalah metode sensus, dan
pengukuran dilakukan terhadap faktafakta kematangan pengendalian prosesproses yang terjadi di dalam organisasi
dengan menggunakan kuesioner.
Description of Maturity Level dapat
digambarkan sebagai kelompok
pernyataan yang terstruktur dimana
masing-masing Description of Maturity
Level berisi statement- statement atau
pernyataan yang dapat bernilai sesuai atau
tidak sesuai, dan sebagian sesuai atau
sebagian tidak sesuai.
2.3. Pelaporan (Reporting)
Setelah kuesioner disebarkan, maka akan
didapat data yang akan diproses untuk
dihitung berdasarkan perhitungan maturity
level. Untuk selanjutnya dilakukan
beberapa tahapan dalam pelaporan yaitu :
- Hasil kuesioner temuan sekarang
(current maturity level) dan harapan
pada masa yang akan datang
(expected maturity level)
- Analisis gap dilakukan analisa
interpretasi dari current maturity
level dan expected maturity level
- Rekomendasi berupa tindakan
korektif mengatasi gap yang
dilakukan untuk mencapai perbaikan
yang dilakukan untuk institusi
- Bagaimana tindakan ini
menghasilkan nilai sistem informasi
yang optimal.
2.4. Tindak Lanjut (Follow Up)
Setelah rekomendasi diserahkan ke
pihak IBI Darmajaya, maka untuk
selanjutnya wewenang perbaikan menjadi
tanggungjawab pihak IBI Darmajaya
apakah akan diterapkan atau hanya
menjadi acuan untuk perbaikan di masa
yang akan datang.
2.5. Tahapan Metode Penelitian
Dari ke-4 tahapan dapat digambarkan
dengan flow diagram sebagai berikut:
Neni Purwati Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014
Informatics and Business Institute Darmajaya 149
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014 Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
Mulai
Observasi Awal
Studi Pustaka
Perencanaan
Kegiatan
Pengumpulan
Data pendukung
Sistem dan
Teknologi Saat ini
Pendefinisian
Maturity Level
Pembuatan
Kuesioner
Analisis Gap hasil
perhitungan
Membuat rekomendasi
Hasil Audit
Dokumentasi
Selesai
Data
Cukup
Y
belum
Hitung
lagi
T
Perhitungan hasil
Kuesioner
Ya
Visi, Misi, sasaran
Mutu, strategi
kebijakan
Hasil kuesioner
yang disebarkan
Konfirmasi Hasil
Kuesioner
Gambar 3.1 Metode Penelitian
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Sistem Informasi Akademik saat
ini dapat dilihat dari hasil perhitungan
tingkat kematangan (current maturity)
pada BAAK dan Biro ICT-Center pada
level user dan manajemen yang dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3.1. Tingkat kematangan (Maturity
Level) BAAK dan Biro ICT-Center untuk
responden kategori user
Domain Proces Curent
Maturity
Expected
Maturity
PO2.1 Informasi
Arsitektur Model 0 0
PO2.2
Peraturan Kamus
Data Perusahaan
dan Data Perintah 0 0
PO2.3
Pengelolaan
Skema Klasifikasi
Data 0 0
PO2.4 Tingkat Keamanan 0 0
PO7.2
Personil
Kualifikasi 0 0
PO7.3
Peran dan
Tanggung Jawab 0 0
PO7.7
Evaluasi Kinerja
Kerja Karyawan 0 0
PO8.1
Sistem manajemen
Mutu 3,89 4,49
PO8.2
Standar IT dan
Praktik Kualitas 4,02 4,5
PO8.3
Pengembangan
dan akuisisi
standar 3,67 4,28
PO8.4
Fokus pada
pelanggan 3,56 4,35
PO8.5
Kegiatan yang
berkelanjutan 4,08 4,56
PO8.6
Pengukuran
kualitas,
pemantauan dan
review 3,43 4,2
DS10.1
Permintaan
layanan dan
kebutuhan
informasi 3,11 4,15
DS10.2
Kecenderungan
pengawasan dan
pelaporan 3,21 4,19
DS11.1
Kebijakan dan
prosedur yang ada
untuk pengelolaan
data yang
didasarkan pada
kebutuhan bisnis
3,39 4,41
DS11.2
Pertukaran dan
pengelolaan
penyimpanan data 3,86 4,53
DS11.3
Peralatan dan
keamanan
pembuangan data
yang tidak terpakai
3,76 4,47
DS11.4
Data yang
mendukung dan
restorasi yang
teruji 3,84 4,5
Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014 Neni Purwati
150 Informatics and Business Institute Darmajaya
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
Tabel 3.2. Maturity Level BAAK dan
Biro ICT-Center untuk responden kategori
manajemen
Domain Proces Curent
Maturity
Expected
Maturity
PO2.1
Informasi Arsitektur
Model 3,73 4,38
PO2.2
Peraturan Kamus
Data Perusahaan
dan Data Perintah
3,46 4,34
PO2.3
Pengelolaan Skema
Klasifikasi Data 3,61 4,61
PO2.4 Tingkat Keamanan 3,61 4,3
PO7.2 Personil Kualifikasi 3,57 4,46
PO7.3
Peran dan
Tanggung Jawab 3,42 4,26
PO7.7
Evaluasi Kinerja
Kerja Karyawan 3,07 4
PO8.1
Sistem manajemen
Mutu 3,69 4,23
PO8.2
Standar IT dan
Praktik Kualitas
3,26 4,38
PO8.3
Pengembangan dan
akuisisi standar 3,3 4,5
PO8.4
Fokus pada
pelanggan 3,46 4,38
PO8.5
Kegiatan yang
berkelanjutan 3,23 4,15
PO8.6
Pengukuran
kualitas,
pemantauan dan
review 3,38 4,15
DS10.1
Permintaan layanan
dan kebutuhan
informasi 3,42 4,45
DS10.2
Kecenderungan
pengawasan dan
pelaporan 3,65 4,53
DS11.1
Kebijakan dan
prosedur yang ada
untuk pengelolaan
data yang
didasarkan pada
kebutuhan bisnis 3,61 4,3
DS11.2
Pertukaran dan
pengelolaan
penyimpanan data 3,65 4,5
DS11.3
Peralatan dan
keamanan
pembuangan data
yang tidak terpakai 4,07 4,61
DS11.4
Data yang
mendukung dan
restorasi yang teruji 3,34 4,42
Hasil perhitungan current maturity
level untuk proses pada BAAK dan Biro
ICT-Center yang berjalan saat ini berada
di bawah expected maturity level, yang
digambarkan dalam tabel 3.3.
Tabel 3.3. Gap tingkat kematangan Saat
ini
DOMAIN PROCES
Current
Maturity
User
Current
Maturity
Manage
ment
PO2 Mendefinisikan
arsitektur
informasi
3,60
3,60
PO7 Mengelola
sumber daya
manusia TI
3,35
3,35
PO8 Mengelola mutu 3,78 3,39
DS10 Mengelola
permasalahan 3,3 3,54
DS11 Mengelola data 3,71 3,67
Tingkat kematangan saat ini (current
maturity level) yang terendah dalam
domain PO dan DS berada pada proses
DS10 yaitu Memastikan Pengelolaan
Permasalahan yang berkelanjutan kepada
pengguna yang berada pada level 3.3.
Sementara itu tingkat yang tertinggi
berada pada proses PO8 yaitu Mengelola
Mutu yang berada pada level 3,78.
Gambar 3.1. Grafik Radar Current User dan
Manajemen
Analisis Gap Maturity Level
Berdasarkan hasil perhitungan
current maturity level dan expected yang
dihasilkan dengan menggunakan kerangka
Neni Purwati Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014
Informatics and Business Institute Darmajaya 151
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
ktur
ma
nan
0
35
tu 78 39
4
71 67
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
kerja cobit 4.1. sebagai acuan untuk
mengukur maturity level dalam sistem
informasi IT, dimana tingkat kematangan
atau maturity level yang diharapkan
(expected maturity level) adalah pada
level 4 (Manage), perhitungan maturity
level untuk proses TI yang ada pada saat
ini (Current maturity level) masih
dibawah maturity level yang diharapkan
(expected maturity level). Untuk itu harus
dilakukan analisis untuk menutupi gap
antara current maturity dengan expected
maturity level tersebut. Tabel 4.7
memperlihatkan gap antara kedua
maturity level untuk setiap proses COBIT
dalam domain PO2, PO7, PO8 dan DS10,
DS11 pada sistem informasi Biro
Administrasi Akademik Kemahasiswaan
(BAAK) dan Biro ICT-Center.
Tabel 3.4. Rata-rata Maturity Level
Current dan Expected
dari User dan Manajemen
Domain Proces Current Expected
PO2 Mengidentifikasi
Arsitektur
Teknologi Informasi
3,60 4,41
PO7
Mengelola Sumber
Daya Manusia TI 3,35 4,24
PO8 Mengelola Mutu 3,58 4,35
DS10
Mengelola
Permasalahan 3,42 4,33
DS11 Mengelola Data 3,69 3,91
Sementara itu tingkat kematangan saat ini
(current maturity level) dan tingkat
kematangan yang diharapkan (expected
maturity level) User dan Manajemen dapat
dilihat pada gambar berikut :
Gambar 3.2. Current dan Expected
maturity level
IV. SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Beberapa kesimpulan yang dapat diambil
dari penelitian yang telah dilakukan
adalah sebagai berikut :
a. Berdasarkan Hasil perhitungan yang
telah dijelaskan pada tabel 4.7 tingkat
kematangan (maturity level) yang ada
pada setiap proses TI yang terdapat dalam
domain Planning and Organization (PO)
dan Delivery and Support (DS) pada
umumnya berada di level 3 (defined
process) agar seluruh TI dapat mencapai
tingkat kematangan yang diinginkan
(expected maturity level) di level 4
(manage) maka semua prosedur yang
disyaratkan di tiap proses harus dipenuhi.
Mengacu pada standarisasi COBIT untuk
mencapai level 4 (manage) maka setiap
proses TI harus memiliki prosedur baku
dan tertulis yang disosialisakan ke semua
pihak yang terlibat dalam sistem informasi
akademik, yaitu kepada pengelola sistem
dan pengguna langsung sistem. Prosedur
Jurnal Informatika, Vol. 14, No. 2, Desember 2014 Neni Purwati
152 Informatics and Business Institute Darmajaya
Neni Purwati
Informatics & Business Institute Darmajaya
Jurnal Informatika, Vol.14, No. 2, Bulan Desember 2014
tersebut harus didokumentasikan dan diupdate secara berkala.
b. Dari hasil gap antar tingkat
kematangan tata kelola TI saat ini dengan
tingkat kematangan yang ingin dicapai,
diketahui pada domain PO dan DS
prioritas perbaikan dilakukan pada PO7
(mengelola sumber daya manusia TI).
Saran
1. Diharapkan dapat selalu dilakukan
audit untuk penelitian berikutnya agar
level maturity setiap proses dapat
diketahui hasilnya, sehingga selalu dapat
dilakukan perbaikan berkelanjutan untuk
mencapai tujuan bisnis institusi.
2. Pada penelitian selanjutnya
disarankan agar dapat menggunakan tools
COBIT 5.1 atau ISO
3. Dapat menambahkan Domain atau
proses yang diteliti sehingga menambah
scope penelitian untuk mencapai hasil
penelitian yang semakin kompleks.
DAFTAR PUSTAKA
[1]. Desy Iba Ricoida, 2008,
Perancangan Tata Kelola TI Untuk
Peningkatan Sistem informasi
akademik Informasi Akademik,
Jurnal STMIK MDP Palembang
[2]. Effendi, Diana, 2008, Perancangan
IT Governance Pada Sistem
informasi layanan Akademik di
UNIKOM (Universitas Komputer
Indonesia) menggunakan COBIT
(Control Objective for Information
and Related Technology) Versi
4.0, Tesis S2 Universitas Indonesia.
[3]. Efi Yosrita, 2010, Jurnal Peningkatan
Layanan Informasi Akademik
Menggunakan COBIT Versi 4.1 :
Studi Kasus Sekolah Tinggi Teknik
PLN, Universitas Budi Luhur,
Jakarta.
[4]. ISACA, 2004, COBIT Student
Book, IT Governance Institute.
[5]. IT Governance Institute, 2000,
Management Guidilines, COBIT 3rd
Edition.
[6]. IT Governance Institute, 2005,
COBIT 4.0 Control Objectives,
Management Guidelines, Maturity
Models, IT Governance Institute.
[7]. IT Governance Institute, 2007,
COBIT 4.1 Framework, Control
Objectives, Management Guidelines,
Maturity Models, IT Governance
Institute.
[8]. Riyanarto Sarno, 2009, Audit sistem
dan Teknologi Informasi, ITS Press,
Surabaya.
[9]. Sugiyono, 2009, Metode Penelitian
Bisnis, Alfabeta, Bandung.
[10]. Weber, Ron, 1999, Information
Systems Control And Audit, Prentice
Hall, US.
Senin, 13 Juli 2020
CBIS
CBIS atau computer base information system adalalh sebuah sistem yang mengolah sebuah data berkualitas dan diperuntukkan sebagai pengambilan keputusan, kendali, koordinasi, dan visualisasi
SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER (CBIS) Oleh : Saliman
ABSTRAK
Informasi adalah salah satu dari lima jenis utama sumber daya yang dapat dipakai oleh manajer. Semua sumber daya termasuk informasi dapat dikelola. Pengelolaan informasi semakin penting seiring dengan rumitnya kegiatan bisnis yang setiap saat membutuhkan informasi yang akurat dan demi pelayanan yang memuskan pada para pelanggan. Pengelolaan informasi juga lebih menantang sejalan dengan perkembangan kemampuan komputer saat ini. Output komputer digunakan oleh berbagai pihak untuk bahan pengambilan keputusan, terutama seorang manajer dalam suatu perusahaan. Saat para manajer melakukan fungsi dan perannya, memerlukan dukungan informasi yang akurat, cepat dan tepat agar dapat melakukan tugasnya secara efektif. Hal ini akan terwujud apabila manajer memiliki keahlian dalam bidang komunikasi dan pemecahan masalah dengan pengetahuan tentang komputer dan informasi. Selanjutnya pengelolaan informasi akan merupakan sebuah sistem, yang saling tergantung sekaligus bersinergi antar berbagai komponen yang membentuk sistem tersebut. Sistem ini dikenal dengan sistem informasi. Karena digunakan untuk membantu manajer dalam mengambil kebijakan maka disebut dengan sistem informasi manajemen. Akibat perkembangan lembaga yang dikelolanya manajer tidak hanya mengelola sumber daya fisik saja, tetapi juga sumber daya konseptual. Sumber daya konseptual sangat abstrak sehingga sulit untuk dikelola. Cara pengelolaannya adalah dengan mengubah menjadi simbolsimbol yang memiliki value (nilai), sehingga dapat dikalkulasi. Cara pengelolaan sumber daya koseptual ini yang paling tepat adalah dengan menggunakan bantuan mesin, dalam hal ini komputer. Dengan demikian sistem informasi manajemen akan lebih efektif apabila dikelola atau berbasis komputer. Sistem informasi berbasis komputer tersebut lebih dikenal sebagai (computer-based information system) atau CBIS. PENDAHULUAN
Setiap pimpinan suatu lembaga selalu menggunakan informasi untuk melaksanakan tugas-tugasnya, sehingga subyek dari manajemen informasi bukanlah suatu hal yang baru. Informasi telah ada sejak adanya manusia sampai saat ini dan masa mendatang. Kegunaan informasi juga relatif sama dari waktu ke waktu yaitu sebagai alat untuk mendukung pengambilan keputusan mulai dari keputusan individual sampai pada tingkatan keputusan seorang manajer profesional pada kalangan lembaga bisnis modern. Daya dukung informasi terhadap pengambilan keputusan sangat berarti, sehingga cara-cara pengelolaan informasi mulai diperhatikan oleh manusia sejalan dengan perkembangan peradabannya. Dengan demikian apa yang telah dijelaskan di atas sangat tepat bahwa subyek informasi bukanlah suatu hal yang baru, namun cara-cara mengelola informasi agar ada kemudahan dalam memperoleh informasi yang akurat dan mutakhir inilah yang selalu mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Selanjutnya untuk menjawab permasalahan ini diperlukan teknologi yang mumpuni. Inovasi yang sangat memungkinkan untuk mengatasi hal tersebut adalah komputer. Lembaga atau organisasi menajdi semakin sadar bahwa informasi adalah suatu sumber daya yang penting dan sangat strategis, dan komputer dapat mengelola sumber daya tersebut. Perkembangan program-program komputer yang sengaja dirancang untuk memudahkan manajemen dalam mengelola informasi sangat pesat. Aplikasi di berbagai bidangpun semakin luas, terutama aplikasi di bidang bisnis yang dimaklumi sebagai indikator kemajuan suatu peradaban manusia. Pada dunia bisnis dikenal beberapa jenis aplikasi program komputer untuk mendukung kinerja suatu lembaga bisnis, seperti aplikasi yang berkaitan dengan penanganan transaksi akuntansi, aplikasi yang berkaitan dengan bidang manajemen sumber daya manusia, aplikasi yang berkaitan dengan bidang pengambilan keputusan, aplikasi yang berkaitan dengan bidang informasi manajemen, bahkan sampai pada kantor maya (virtual office), dan sistem berbasis pengetahuan (knowledgebased system). Seluruh aplikasi program komputer atau lebih dikenal dengan software di bidang bisnis tersebut lebih dikenal dengan istilah sitem informasi berbasis komputer (computer-based information system), atau CBIS. Kemampuan komputer mengelola informasi bisnis yang semakin kompleks dijelaskan oleh Reymond McLeod (2004:3) sebagai berikut: “Informasi adalah salah satu jenis utama sumber daya yang tersedia bagi manajer. Informasi dapat dikelola seperti halnya sumber daya yang lain, dan perhatian pada topic ini bersumber dari dua pengaruh. Pertama, bisnis telah menjadi semakin rumit, dan kedua, komputer telah mencapai kemampuan yang semakin baik”. Dari pendapat di atas jelaslah bahwa solusi yang dapat diambil untuk menangani dan mengelola informasi bisnis, yang setiap saat dibutuhkan untuk mendukung pengambilan keputusan pihak manajer diperlukan suatu teknologi yang mampu mendukung yaitu komputer. Tegasnya bahwa sistem informasi berbasis komputer merupakan andalan dunia bisnis. Agar dunia bisnis, kalangan pemerintahan, maupun dunia pendidikan dapat eksis maka harus menguasai informasi yang sudah berbasis komputer. Hal tersebut senada dengan pendapat Wahyudi Kumorotomo (2001:15) yang mengatakan sebagai berikut: “… secara teoritis SIM dapat dilaksanakan tanpa bantuan alat komputer. akan tetapi sistem manajemen yang semakin kompleks di dalam organisasi-organisasi modern, dan juga melihat kenyataan bahwa harga perangkat keras maupun perangkat lunak komputer relative semakin murah, unsure komputer tidak dapat diabaikan peranannya. Maka setiap pambahasan tentang SIM modern sekarang ini hampir dapat dipastikan akan melibatkan pembahasan tentang sistem komputer sendiri. SIM yang berbasis komputer (computer-based management information systems), merupakan topic inti dalam setiap pembahasan tentang SIM”. Dengan demikian maka jelaslah bahwa sistem informasi yang paling efektif saat ini, adalah sistem informasi yang pengelolaanya menggunakan perangkat komputer, atau sistem informasi berbasis komputer.
MANAJEMEN INFORMASI
Output informasi dari komputer digunakan oleh para manajer, nonmanajer, serta orang-orang dan organisasi-organisasi dalam lingkungan perusahaan. Manajer berada pada semua tingkat organisasi perusahaan, dan dalam semua area bisnis. Manajer melaksanakan berbagai fungsi dan peran, supaya berhasil dalam aktivitasnya manajer memerlukan keahlian dalam komunikasi dan pemecahan masalah. Manajer perlu mengerti komputer (computer literate), tetapi yang lebih penting mereka perlu mengerti informasi (information literate). Manajer harus mampu melihat bahwa unit yang berada di bawah kendalinya merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa subsistem dan berada dalam supersistem yang lebih besar. Perusahaan atau lembaga adalah suatu sistem yang bersifat fisik, namun dikelola dengan menggunakan suatu sistem konseptual. Sistem konseptual itu terdiri dari suatu pengolah informasi yang mengubah data menjadi informasi dan menggambarkan sumber daya fisik. Penjelasan di atas dapat dipertegas dengan ilustrasi sebagai berikut: Manajer perusahaan berskala kecil dengan aset yang belum begitu besar, dan sumber daya manusia terbatas, misalnya sebuah kios, masih mampu mengelola usahanya dengan mengamati aktiva-aktiva berwujudnya seperti barang dagangan, cash register, ruangan, dan bahkan arus pelanggan. Pada saat skala operasi meningkat menjadi suatu perusahaan dengan ratusan atau ribuan pekerja, dengan operasi yang tersebar di wilayah yang luas, manajer tidak lagi dapat mengandalkan pengamatan, tetapi harus lebih mengandalkan informasi. Manajer memanfaatkan banyak laporan atau informasi untuk memahami atau mengetahui kondisi fisik perusahaan. Sehingga dapat dibayangkan betapa mudahnya seorang direktur memahami seluruh kondisi perusahaan dalam sesaat dengan memanfaatkan informasi, sekaligus mengandalkan informasi tersebut untuk pengambilan keputusan. Dengan demikian para manajer menyadari sepenuhnya bahwa informasi merupakan suber daya yang sangat berharga, sehingga perlu dikelola sebaikbaiknya, hal ini senada dengan pendapat Wahyudi Kumorotomo ((2001:2) yang menjelaskan bahwa semakin banyak organisasi atau perusahaan yang mencurahkan perhatian utamanya pada penciptaan informasi yang bermanfaat bagi manajemen, namun yang lebih penting lagi adalah bahwa hanya perusahaan atau organisasi yang mampu mencari dan mendapatkan informasi secara efektif yang akan berhasil. Lebih jauh Reymond McLeod (2004:3) menjelaskan tentang pentingnya sumber daya inforamsi, dengan memasukkan informasi ke dalam lima jenis utama sumber daya, yaitu: manusia, material, mesin (termasuk fasilitas dan energi), uang, dan informasi (termasuk data). Tugas manajer adalah mengelola kelima sumber daya tersebut agar dapat digunakan dengan cara yang paling efektif. Empat jenis sumber daya yang pertama memiliki wujud (kasat mata), sehingga secara fisik dapat disentuh, dikelola dan dimanfaatkan secara langsung. Sumber daya tersebut dikenal dengan istilah sumber daya fisik, sedangkan sumber daya yang ke lima yaitu informasi, hanya memiliki nilai dari apa yang diwakilinya, bukan dari bentuk atau wujudnya. Sumber daya informasi disebut juga dengan sumber daya konseptual. Para manajer dituntut agar dapat menggunakan sumber daya konseptual untuk mengelola sumber daya fisik. Terkait dengan pendapat di atas Wahyudi Kumorotomo (2001:9) menjelaskan bahwa setiap unsur pembentuk organisasi adalah penting dan harus mendapat perhatian yang utuh supaya manajer dapat bertindak lebih efekti. Kemudian yang dimaksud dengan unsur atau komponen pembentuk organisasi adalah bukan hanya bagian-bagian yang tampak secara fisik, tetapi juga hal-hal yang bersifat abstrak atau konseptual. Sumber daya diperoleh dan disusun agar siap digunakan pada saat diperlukan. Pada proses penyusunan sumber daya mengharuskan kegiatan pengubahan bahan mentah menjadi suatu bentuk yang lebih siap digunakan, menjadi lebih halus, tepat ukuran, akurat, pasti, dan sebagainya. Proses pengolahan atau penyusunan sumber daya menjadi lebih baik tersebut, memerlukan biaya mahal, sehingga setelah sumber daya tersebut disusun seorang manajer dituntut untuk memaksimalkan penggunaan sumber daya dalam kegiatan manajemennya. Selanjutnya manajer harus meminimalkan biaya dan waktu yang terbuang untuk perbaikan sumber daya dengan cara menjaga berfungsinya sumber daya secara kontinyu pada titik efisiensi puncak. Manajer baru melakukan penggantian sumber daya tersebut pada saat kritis, sebelum sumber daya tersebut menjadi tidak efisien atau usang. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sumber daya terdiri dari sumber daya fisik dan sumber daya konseptual. Manajer harus mampu mengelola kedua sumber daya tersebut. Mengelola sumber daya konseptual dalam hal ini informasi tidak semudah mengelola sumber daya fisik, karena obyek yang dikelola hanya merupakan representasi dari suatu benda berujud atau bahkan hanya sebuah fenomena yang hanya dapat dirasakan, didengar atau dicium baunya. Dengan demikian dibutuhkan personal yang memahami value added dari sebuah sumber daya konseptual, agar model dan cara pengelolaannya tepat. Manajer harus memahami bahwa lahirnya sebuah informasi melalui tahapan yang cukup rumit, sehingga mampu memfasilitasi personal yang bertugas mengelola sumber daya konseptual. Fasilitas yang disediakan harus mencakup semua proses pengelolaan informasi mulai dari pengumpulan data mentah, sampai pada kegiatan proses data menjadi sebuah informasi yang berguna. Informasi tersebut selanjutnya akan didistribusikan kepada pihak-pihak dalam organisasi yang layak menerima, dalam bentuk yang tepat, saat yang tepat sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal. Akhirnya manajer akan membuang atau memusnahkan informasi yang tidak berguna untuk diganti dengan informasi yang lebih mutakhir dan akurat. Kegiatan tersebut harus dilakukan oleh personal pengelola sumber daya konseptual dengan dukungan fasilitas yang memadai. Seluruh aktivitas tersebut mulai dari memperolah informasi, menggunakannya seefektif mungkin, dan membuangnya pada saat tidak dibutuhkan lagi, dengan dukungan fasilitas yang memadai oleh Reymond McLeod (2004:4) disebut dengan istilah manajemen informasi.
PERKEMBANGAN MANAJEMEN INFORMASI
Peningkatan penggunaan sistem informasi pada akhir-akhir ini, tidak terlepas dari perhatian manajemen dalam perusahaan terhadap betapa pentingnya manajemen informasni. Para manajer memberikan perhatian yang semakin besar pada manajemen informasi selama beberapa tahun terakhir ini, karena dua alasan utama. Pertama, kegiatan bisnis telah menjadi semakin rumit. Kedua, komputer telah mencapai kemampuan yang semakin baik. Secara lebih rinci dapat dijelaskan sebagai berikut: Kegiatan Bisnis Semakin Rumit Bisnis memang selalu rumit, tetapi sekarang ini lebih rumit dibandingkan sebelumnya. Semua perusahaan terkena pengaruh ekonomi internasional dan bersaing dalam pasar internasional, teknologi bisnis menjadi semakin rumit, batas waktu untuk bertindak semakin singkat dan terdapat pula kendala-kendala sosial. Setiap pengaruh ini memberi kontribusi pada kerumitan bisnis. Mengenai pengaruh ekonomi internasional dapat dimaklumi karena perusahaan-perusahaan besar maupun kecil semua terkena pengaruh ekonomi yang dapat bersumber dari bagian dunia manapun. Pengaruh tersebut dapat terlihat pada nilai relative mata uang tiap negara. Pembeli melakukan pembelian di Negara-negara yang mata uangnya memiliki nilai paling besar. Sebagai contoh, saat Meksiko mendevaluasikan peso pada akhir 1980-an, banyak turis Amerika Serikat yang memutuskan untuk berlibur di Meksiko daripada di tempat lain, seperti Hawaii. Sedangkan persaingan dunia dapat dijelaskan bahwa perusahaanperusahaan tidak lagi bersaing dalam wilayah geografisnya sendiri. Sebaliknya persaingan terjadi pada skala dunia. Dampak dari persaingan ini dapat terlihat pada impor dari luar negeri. Sebagai contoh keputusan General Motors pada awal tahun 1990-an untuk menutup banyak pabriknya menunjukkan bahwa industri raksasa pun tidak terhindar dari dampak persaingan, yang dapat berasal dari bagian dunia manapun. Sementara itu kerumitan teknologi yang meningkat dapat dilihat setiap saat bahwa berbagai teknologi yang diterapkan dalam dunia bisnis selalu mengalami perubahan yang sangat pesat. Bebarapa kemudahan pelayanan teknologi memanjakan manusia seperti bar code scanners di pasar swalayan, sistem pemesanan penerbangan yang berbasis komputer, automated teller machine, dan closed circuit television di gedung-gedung parkir. Juga terdapat banyak teknologi di belakang layar, yang tidak terlihat misalnya robot-robot pabrik, serta peralatan otomatis untuk penanganan dan penyimpanan barang dagangan. Perusahaan-perusahaan melakukan investasi pada teknologi ini supaya mereka dapat melaksanakan operasi yang diperlukan secara lebih efektif. Batas waktu juga semakin singkat, dapat diketahui bahwa semua tahap operasi bisnis sekarang ini dilaksanakan secara lebih cepat daripada sebelumnya. Para wiraniaga melakukan pemasaran melalui telepon (telemarketing) untuk menghubungi pelanggan mereka dalam beberapa detik, perintah penjualan dikirim secara elektronik dari satu komputer ke komputer yang lain, dan pabrik membuat jadwal pengiriman material agar tiba tepat pada waktunya (just in time). Namun demikian kendala-kendala social juga tetap ada, di mana tidak semua tekanan mendukung produksi, sebagian malah mendorong non-produksi. Hal ini nyata pada produk dan jasa yang tidak diinginkan masyarakat. Keputusan-keputusan bisnis harus didasarkan pada faktor-faktor ekonomis, tetapi keuntungan dan biaya sosial harus juga dipertimbangkan. Perluasan pabrik, produk baru, tempat penjualan baru, dan tindakan-tindakan serupa semuanya harus dipertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Kemampuan Komputer yang Semakin Baik Dalam hal ukuran dan kecepatannya, komputer-komputer tahun 1950-an dan 1960-an tampak seperti dinosaurus dari Jurassic Park. Komputer-komputer ini ditempatkan dalam “ruangan besar” dan hanya boleh disentuh oleh para spesialis komputer perusahaan. Para pemakai tidak pernah berhubungan langsung dengan perangkat keras, tetapi pengaturan seperti ini di rasa cocok oleh para pemakai. Umumnya, pemakai tidak tahu cara menggunakan komputer dan takut untuk belajar. Para pemakai komputer sekarang justru sebaliknya, sangat mungkin memiliki terminal keyboard atau komputer mikro di ruangan mereka. Banyak komputer mikro dihubungkan dengan komputer-komputer lain dalam suatu jaringan. Bukan hanya komputer yang tersedia, para pemakai pun tahu cara menggunakannya. Para pemakai sekarang tidak memandang komputer sebagai sesuatu yang istimewa tetapi sebagai bagian peralatan kantor yang dibutuhkan, seperti halnya meja, telepon atau mesin fotokopi.
PEMAKAI INFORMASI
Awalnya pemakai output komputer adalah pegawai administrasi di bagian akutansi, yang komputernya melaksanakan aplikasi seperti pembayaran gaji, pengelolaan persediaan, dan penagihan. Sebagian informasi juga di sediakan bagi para menejer, tetapi hanya sebagai produk sampingan dari aplikasi akuntansi Gagasan untuk menggunakan komputer sebagai suatu sistem informasi manajemen (SIM), merupakan suatu terobosan besar, karena menyadari bahwa para manajer memerlukan informasi untuk pemecahan masalah. Saat perusahaan-perusahaan menjangkau konsep SIM, mulai dikembangkan berbagai aplikasi yang secara khusus diarahkan untuk mendukung manajemen. Kroenke dalam Abdul Kadir (2003:5) menjelaskan bahwa sistem informasi memberikan nilai tambah terhadap proses produksi, kualitas, manajemen, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah serta keunggulan kompetitif yang tentu saja sangat berguna bagi kegiatan bisnis. Sebenarnya bukan hanya manajer yang memperoleh manfaat dari SIM, para pegawai non-manajer juga menggunakan produk SIM, bahkan yang berada di luar perusahaan, seperti para pelanggan yang menerima faktur dan laporan, para pemegang saham menerima cek dividen, dan pemerintah menerima laporan pajak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa para pemakai SIM meliputi: manajer, non-manajer, orang atau organisasi di luar perusahaan.
FUNGSI DAN PERAN MANAJER
Pada tahun 1914, seorang ahli teori manajemen berkebangsaan Perancis, Henry Fayol, menyatakan bahwa manajer melaksanakan lima fungsi-fungsi manajemen yang utama. Pertama, manajer merencanakan (plan) apa yang akan mereka lakukan. Kemudian, menyusun staf (staff) organisasi mereka dengan sumber daya yang diperlukan. Dengan sumber daya yang ada, mereka mengarahkan (direct) untuk melaksanakan rencana. Akhirnya mereka mengendalikan (control) sumber daya, menjaganya agar tetap beroperasi secara optimal. Semua manajer, apapun tingkatannya melaksanakan fungsi-fungsi tersebut, walaupun mungkin dengan penekanan yang berlainan. Sementara itu Henry Mintzberg, professor pada McGill University Kanada, menganggap bahwa fungsi-fungsi Fayol tidak memberikan gambaran yang menyeluruh. Ia mengembangkan kerangka kerja yang lebih yang harus dimainkan oleh manajer, meliputi aktivitas antar-pribadi (interpersonal), informasi (informational) dan keputusan (decisional). Sistem informasi manajemen yang baik, dirancang berdasarkan fungsifungsi dan peran-peran manajerial tersebut. Di samping itu agar SIM yang dirancang oleh suatu lembaga benar-benar fungsional, maka harus dikembangkan dengan memperhatikan keahlian yang harus dimiliki oleh seorang manajer Reymond McLeod (2004:7-8). Keahlian tersebut meliputi keahlian dalam berkomunikasi dan keahlian dalam memecahkan masalah. Keahlian tersebut akan segera terbentuk apabila SIM yang dikembangkan benar-benar fungsional. Keahlian manajer dalam berkomunikasi meliputi kegiatan menerima dan mengirimkan informasi dalam bentuk lisan atau tertulis. Komunikasi tertulis meliputi laporan, surat, memo, surat elektronik dan terbitan berkala. Komunikasi lisan terjadi saat rapat, saat menggunakan telepon atau voice mail, saat meninjau fasilitas, dan selama acara makan, bisnis serta berbagai kegiatan sosial. Tiap manajer memiliki pilihan medianya sendiri. Seorang manajer mungkin lebih menyukai percakapan telepon daripada surat elektronik, sementara yang lain mungkin kebalikannya. Para manajer menyusun suatu perpaduan media komunikasi yang sesuai dengan gaya manajemen mereka. Keahlian manajer dalam memecahkan masalah (problem solving) dapat didefinisikan sebagai semua kegiatan yang mengarah pada solusi suatu permasalahan. Masalah biasanya dianggap sebagai sesuatu yang selalu buruk, karena sangat sedikit yang menganggap masalah sebagai sesuatu untuk meraih kesempatan. Hasil dari aktivitas pemecahan masalah adalah solusi. Selama proses pemecahan masalah, manajer terlibat dalam pengambilan keputusan (decision making), yaitu tindakan memilih dari berbagai alternatif tindakan. Keputusan adalah suatu tindakan tertentu yang telah dipilih.
MANAJER DAN SISTEM
Ahli-ahli manajemen sering mangatakan bahwa jika seorang manajer memandang organisasinya sebagai suatu sistem, hal itu akan menjadikan pemecahan masalah lebih mudah dan lebih efektif. Sistem adalah sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai tujuan. Suatu organisasi seperti perusahaan atau suatu area bisnis cocok dengan definisi ini. Organisasi terdiri dari sejumlah sumber daya, di mana sumber daya tersebut bekerja menuju tujuan tertentu yang telah ditentukan oleh pemilik atau manajemen. Di samping konsep sistem, ada lagi konsep supersistem dan subsistem. Jika suatu sistem adalah bagian dari sistem yang lebih besar, sistem yang lebih besar itu adalah supersistem. Contohnya, pemerintahan kota adalah suatu sistem, tetapi ia juga merupakan bagian dari sistem yang lebih besar yaitu pemerintahan propinsi. Pemerintahan propinsi adalah supersistem dari pemerintahan kota dan juga merupakan subsistem dari pemerintahan nasional. Dalam dunia bisnis, sistem perusahaan berada dalam satu atau lebih sistem lingkungan yang lebih besar atau supersistem. Jika perusahaan itu suatu bank, misalnya, perusahaan tersebut merupakan bagian dari masyarakat keuangan. perusahaan tersebut juga merupakan bagian dari masyarakat bisnis, masyarakat setempat, dan masyarakat global. Sistem perusahaan juga mencakup sistem-sistem yang lebih kecil atau subsistem. Subsistem dari bank mungkin barupa departemen-departemen seperti tabungan, rekening koran dan pinjaman angsuran. Walaupun tiap subsistem ini memiliki tujuannya masing-masing, tujuan-tujuan bawahan ini mendukung dan memberi kontribusi pada tujuan keseluruhan perusahaan. Antara supersistem, sistem dan subsistem harus terjalin dalam satu kesatuan yang bersinergi. Ketiganya harus diikat dalam sebuah sistem informasi manajemen. Dengan demikian sistem informasi yang menghasilkan informasi dengan akurasi dan presisi tinggi menjadi sebuah keharusan, agar ketiga sistem tersebut dapat berjalan seiring dan sejalan dalam mencapai tujuan. Manajer pada tingkat supersistem disebut manajer puncak (top manger), manajer pada tingkat sistem disebut manajer menengah (middle manager), dan manajer pada tingkat subsistem disebut manajer rendah (lower manager). Ketiga tingkat manajer tersebut dapat bekerjasama dengan baik apabila didukung oleh sistem informasi yang handal, yang mampu menghasilkan informasi yang memiliki akurasi dan presisi tinggi, sehingga keputusan yang diambil pada tingkat manajer puncak tidak akan bertentangan dengan keputusan pada tingkat manajer rendah, atau sebalinya. Hal ini hanya mungkin terjadi apabila sistem informasi yang digunakan sudah berbasis komputer (CBIS), dan saling berhubungan satu sama lain. Sejalan dengan pendapat di atas mengenai kualitas informasi agar dapat digunakan untuk mengambil keputusan secara tepat, Abdul Kadir (2003:46) menjelaskan bahwa informasi yang berkualitas adalah informasi yang baik, yang memiliki karakteristik : relevansi, ketepatan waktu, dan keakurasian. MACAM DAN NILAI CBIS Manajer membuat keputusan untuk memecahkan masalah, dan informasi digunakan dalam membuat keputusan. Informasi disajikan dalam bentuk lisan maupun tertulis oleh suatu pengolah informasi. Porsi komputer dalam mengolah informasi terdiri dari berbagai aplikasi berbasis komputer, seperti SIA, SIM, DSS, kantor virtual dan sistem berbasis pengetahuan, Reymond McLeod (2004:14). Istilah yang mencakup semua aplikasi berbasis komputer adalah sistem informasi berbasis komputer (computer based information system), atau CBIS, untuk menggambarkan lima subsistem yang menggunakan komputer. Semua subsistem CBIS menyediakan informasi untuk pemecahan masalah. Tanpa memandang apakah spesialis informasi atau pemakai yang mengembangkan aplikasi, CBIS harus dinilai dengan cara yang sama seperti investasi besar lain dalam perusahaan. Sebenarnya sangat sulit mengukur nilai CBIS, ada perusahaan yang mencoba menimbang nilai komputer berdasarkan biaya tenaga administrasi (clerical cost) yang digantikan. Sebenarnya hal ini tidaklah tepat, karena setelah ada CBIS hanya sedikit pegawai administrasi yang kehilangan pekerjaanya. Namun manfaat yang besar diperoleh perusahaan setelah ada CBIS, yaitu mampu mencapai peningkatan efisiensi dan efektivitas, bahkan mampu mengurangi investasi. Sebagi bukti bahwa CBIS itu lebih efisien dari pendahulunya (sistem manual), dijelaskan oleh Reymond McLeod (2004:19) bahwa salah satu aplikasi komputer pertama adalah pengendalian persediaan dan perusahaan umumnya dapat mengurangi investasi persediaan mereka dengan mengkomputerisasi catatan persediaan. Karena sukarnya mengukur nilai CBIS, perusahaan-perusahaan sangat berhati-hati dalam membuat keputusan untuk menerapkan sistem seperti itu. Banyak waktu manajer dan staf yang dihabiskan untuk mengevaluasi dampak sistem itu pada organisasi. Menimbang-nilai CBIS, dengan menggunakan gabungan ukuran-ukuran kuantitatif dan subyektif, adalah langkah kunci dalam mencapai sumber daya yang berharga ini. Dalam beberapa hal, nilai CBIS juga dapat dipertimbangkan dari siklus CBIS. Tiap subsistem CBIS menyerupai suatu organisme hidup yaitu : lahir, bertumbuh, menjadi matang, berfungsi dan akhirnya mati. Proses evolusi ini disebut siklus hidup sistem (system life cycle – SLC), dan terdiri dari tahap-tahap berikut: (1) Perencanaan; (2) Analisis; (3) Rancangan; (4) Penerapan; dan (5) Penggunaan. Siklus hidup suatu sistem berbasis komputer mungkin hanya berlangsung beberapa bulan, atau mungkin berlangsung beberapa tahun, sehingga dapat dikatakan bahwa CBIS mempunyai biaya yang tinggi. Cepat atau lambat, sifat dinamis kebutuhan informasi akan melampaui kemampuan sistem informasi, sehingga sistem itu harus diperbarui. Tahap-tahap siklus hidup sistem membentuk suatu pola lingkaran. Saat suatu sistem berakhir masa kegunaannya dan harus diganti, suatu siklus hidup baru dimulai, diawali dengan tahap perencanaan. Walau banyak orang mungkin menyumbangkan keahlian khusus mereka untuk pengembangan sistem berbasis komputer, pemakailah yang bertanggung jawab atas siklus hidup sistem. Sesuai dengan penekanan pada manajer sebagai pemakai, tanggung jawab untuk mengelola CBIS ditugaskan pada manajer. Manajer ini adalah manajer dari unit organisasi tempat diaplikasikannya komputer dan dapat ditempatkan di mana saja di dalam perusahaan. Seiring berkembangnya CBIS, manajer merencanakan siklus hidup dan mengatur para spesialis informasi yang terlibat. Setelah penerapan, manajer mengendalikan CBIS untuk memastikan bahwa sistem tersebut terus menyediakan dukungan yang diharapkan. Saat manajer memilih untuk memanfaatkan dukungan para spesialis informasi, kedua pihak bekerja sama untuk mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah, mengidentifikasi dan mengevaluasi solusi alternatif, memilih solusi terbaik, merakit perangkat keras dan perangkat lunak yang sesuai, menciptakan database, dan menjaga kemutakhiran sistem. Semua kegiatan tersebut akan dapat dilakukan dalam waktu relative singkat apabila perusahaan telah menggunakan sistem informasi berbasis komputer. PENUTUP Kemajuan jaman ditandai dengan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk di dalamnya kemajuan di bidang teknologi informasi. Suatu lembaga selalu membutuhkan informasi yang terkini dan memiliki akurasi yang cukup tinggi untuk mendukung pengambilan kebijakan-kebijakannya, apabila ingin meraih keunggulan kompetitif. Informasi menjadi sangat penting bagi siapapun yang ingin menguasai keunggulan. Informasi adalah salah satu dari lima jenis utama sumber daya yang dapat dipakai oleh manajer. Semua sumber daya termasuk informasi dapat dikelola. Pengelolaan informasi semakin penting seiring dengan rumitnya kegiatan bisnis yang setiap saat membutuhkan informasi yang akurat dan demi pelayanan yang memuskan pada para pelanggan. Pengelolaan informasi juga lebih menantang sejalan dengan perkembangan kemampuan komputer saat ini. Produk komputer digunakan oleh berbagai pihak untuk bahan pengambilan keputusan, terutama seorang manajer dalam suatu perusahaan. Saat para manajer melakukan fungsi dan perannya, memerlukan dukungan informasi yang akurat, cepat dan tepat agar dapat melakukan tugasnya secara efektif dan efisien. Hal ini akan terwujud apabila manajer memiliki keahlian dalam bidang komunikasi dan pemecahan masalah dengan pengetahuan tentang komputer dan informasi. Selanjutnya pengelolaan informasi akan merupakan sebuah sistem, yang saling tergantung sekaligus bersinergi antar berbagai komponen yang membentuk sistem tersebut. Sistem ini dikenal dengan sistem informasi. Karena digunakan untuk membantu manajer dalam mengambil kebijakan maka disebut dengan sistem informasi manajemen. Akibat perkembangan lembaga yang dikelolanya manajer tidak hanya mengelola sumber daya fisik saja, tetapi juga sumber daya konseptual. Sumber daya konseptual sangat abstrak sehingga sulit untuk dikelola. Cara pengelolaannya adalah dengan mengubah menjadi simbol-simbol yang memiliki value (nilai), sehingga dapat dikalkulasi. Cara pengelolaan sumber daya koseptual ini yang paling tepat adalah dengan menggunakan bantuan mesin, dalam hal ini komputer. Dengan demikian sistem informasi manajemen akan lebih efektif apabila dikelola atau berbasis komputer. Sistem informasi berbasis komputer tersebut lebih dikenal sebagai (computer-based information system) atau CBIS.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Kadir, 2003, Pengenalan Sistem Informasi, Yogyakarta : Andi Offset. Brown, Carol V., dan Bostrom, Robert P. (Spring:1994). “Organization Designs for the Management of End-User Computing: Reexamining the Contingencies.” Journal of Management Information System. Cale, Edward G., Jr., dan Kanter, Jerry. (Number 1: 1998). “Aligning Information Systems and Business Strategy : A Case Study”. Journal of Information Technology Management. Mirani, Rajesh, dan King, William R. 1994. “The Development of a Measure for End – User Computing Support,” Decision Sciences. Moekijat, 1988, Sistem Informasi Manajemen, Bandung : CV Remaja Karya. Raymond McLeod, Jr. dan George Schell. 2004. Sistem Informasi Manajemen (terjemahan). Jakarta: PT Indeks Siagian, S.P, 1984, Sistem Informasi untuk Pengambilan Keputusan, Jakarta : Gunung Agung. Wahyudi Kumorotomo dan Subando Agus Martono, 2001, Sistem Informasi Manajemen, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Yoder, D. 1964. Handbook of Personnel Management and Labour Relation, New York: Long Man. Yogiyantoro HM, 1990, Analisis dan Desain Sistem Informasi : Pendekatan Terstruktur, Yogyakarta : Andi Offset. _____, 2000, Sistem Informasi Berbasis Komputer : Konsep Dasar dan Komponen, Edisi Ketiga, Yogyakarta : BPFE Yoon, Younghoc. (Spring : 1999). “Discovering Knowledge in Corporate Databases.” Information Systems Management. BIODATA : Saliman, lahir di Kutasari, Purbalingga, 3 Agustus 1966 adalah Lektor Kepala pada Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta.
SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER (CBIS) Oleh : Saliman
ABSTRAK
Informasi adalah salah satu dari lima jenis utama sumber daya yang dapat dipakai oleh manajer. Semua sumber daya termasuk informasi dapat dikelola. Pengelolaan informasi semakin penting seiring dengan rumitnya kegiatan bisnis yang setiap saat membutuhkan informasi yang akurat dan demi pelayanan yang memuskan pada para pelanggan. Pengelolaan informasi juga lebih menantang sejalan dengan perkembangan kemampuan komputer saat ini. Output komputer digunakan oleh berbagai pihak untuk bahan pengambilan keputusan, terutama seorang manajer dalam suatu perusahaan. Saat para manajer melakukan fungsi dan perannya, memerlukan dukungan informasi yang akurat, cepat dan tepat agar dapat melakukan tugasnya secara efektif. Hal ini akan terwujud apabila manajer memiliki keahlian dalam bidang komunikasi dan pemecahan masalah dengan pengetahuan tentang komputer dan informasi. Selanjutnya pengelolaan informasi akan merupakan sebuah sistem, yang saling tergantung sekaligus bersinergi antar berbagai komponen yang membentuk sistem tersebut. Sistem ini dikenal dengan sistem informasi. Karena digunakan untuk membantu manajer dalam mengambil kebijakan maka disebut dengan sistem informasi manajemen. Akibat perkembangan lembaga yang dikelolanya manajer tidak hanya mengelola sumber daya fisik saja, tetapi juga sumber daya konseptual. Sumber daya konseptual sangat abstrak sehingga sulit untuk dikelola. Cara pengelolaannya adalah dengan mengubah menjadi simbolsimbol yang memiliki value (nilai), sehingga dapat dikalkulasi. Cara pengelolaan sumber daya koseptual ini yang paling tepat adalah dengan menggunakan bantuan mesin, dalam hal ini komputer. Dengan demikian sistem informasi manajemen akan lebih efektif apabila dikelola atau berbasis komputer. Sistem informasi berbasis komputer tersebut lebih dikenal sebagai (computer-based information system) atau CBIS. PENDAHULUAN
Setiap pimpinan suatu lembaga selalu menggunakan informasi untuk melaksanakan tugas-tugasnya, sehingga subyek dari manajemen informasi bukanlah suatu hal yang baru. Informasi telah ada sejak adanya manusia sampai saat ini dan masa mendatang. Kegunaan informasi juga relatif sama dari waktu ke waktu yaitu sebagai alat untuk mendukung pengambilan keputusan mulai dari keputusan individual sampai pada tingkatan keputusan seorang manajer profesional pada kalangan lembaga bisnis modern. Daya dukung informasi terhadap pengambilan keputusan sangat berarti, sehingga cara-cara pengelolaan informasi mulai diperhatikan oleh manusia sejalan dengan perkembangan peradabannya. Dengan demikian apa yang telah dijelaskan di atas sangat tepat bahwa subyek informasi bukanlah suatu hal yang baru, namun cara-cara mengelola informasi agar ada kemudahan dalam memperoleh informasi yang akurat dan mutakhir inilah yang selalu mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Selanjutnya untuk menjawab permasalahan ini diperlukan teknologi yang mumpuni. Inovasi yang sangat memungkinkan untuk mengatasi hal tersebut adalah komputer. Lembaga atau organisasi menajdi semakin sadar bahwa informasi adalah suatu sumber daya yang penting dan sangat strategis, dan komputer dapat mengelola sumber daya tersebut. Perkembangan program-program komputer yang sengaja dirancang untuk memudahkan manajemen dalam mengelola informasi sangat pesat. Aplikasi di berbagai bidangpun semakin luas, terutama aplikasi di bidang bisnis yang dimaklumi sebagai indikator kemajuan suatu peradaban manusia. Pada dunia bisnis dikenal beberapa jenis aplikasi program komputer untuk mendukung kinerja suatu lembaga bisnis, seperti aplikasi yang berkaitan dengan penanganan transaksi akuntansi, aplikasi yang berkaitan dengan bidang manajemen sumber daya manusia, aplikasi yang berkaitan dengan bidang pengambilan keputusan, aplikasi yang berkaitan dengan bidang informasi manajemen, bahkan sampai pada kantor maya (virtual office), dan sistem berbasis pengetahuan (knowledgebased system). Seluruh aplikasi program komputer atau lebih dikenal dengan software di bidang bisnis tersebut lebih dikenal dengan istilah sitem informasi berbasis komputer (computer-based information system), atau CBIS. Kemampuan komputer mengelola informasi bisnis yang semakin kompleks dijelaskan oleh Reymond McLeod (2004:3) sebagai berikut: “Informasi adalah salah satu jenis utama sumber daya yang tersedia bagi manajer. Informasi dapat dikelola seperti halnya sumber daya yang lain, dan perhatian pada topic ini bersumber dari dua pengaruh. Pertama, bisnis telah menjadi semakin rumit, dan kedua, komputer telah mencapai kemampuan yang semakin baik”. Dari pendapat di atas jelaslah bahwa solusi yang dapat diambil untuk menangani dan mengelola informasi bisnis, yang setiap saat dibutuhkan untuk mendukung pengambilan keputusan pihak manajer diperlukan suatu teknologi yang mampu mendukung yaitu komputer. Tegasnya bahwa sistem informasi berbasis komputer merupakan andalan dunia bisnis. Agar dunia bisnis, kalangan pemerintahan, maupun dunia pendidikan dapat eksis maka harus menguasai informasi yang sudah berbasis komputer. Hal tersebut senada dengan pendapat Wahyudi Kumorotomo (2001:15) yang mengatakan sebagai berikut: “… secara teoritis SIM dapat dilaksanakan tanpa bantuan alat komputer. akan tetapi sistem manajemen yang semakin kompleks di dalam organisasi-organisasi modern, dan juga melihat kenyataan bahwa harga perangkat keras maupun perangkat lunak komputer relative semakin murah, unsure komputer tidak dapat diabaikan peranannya. Maka setiap pambahasan tentang SIM modern sekarang ini hampir dapat dipastikan akan melibatkan pembahasan tentang sistem komputer sendiri. SIM yang berbasis komputer (computer-based management information systems), merupakan topic inti dalam setiap pembahasan tentang SIM”. Dengan demikian maka jelaslah bahwa sistem informasi yang paling efektif saat ini, adalah sistem informasi yang pengelolaanya menggunakan perangkat komputer, atau sistem informasi berbasis komputer.
MANAJEMEN INFORMASI
Output informasi dari komputer digunakan oleh para manajer, nonmanajer, serta orang-orang dan organisasi-organisasi dalam lingkungan perusahaan. Manajer berada pada semua tingkat organisasi perusahaan, dan dalam semua area bisnis. Manajer melaksanakan berbagai fungsi dan peran, supaya berhasil dalam aktivitasnya manajer memerlukan keahlian dalam komunikasi dan pemecahan masalah. Manajer perlu mengerti komputer (computer literate), tetapi yang lebih penting mereka perlu mengerti informasi (information literate). Manajer harus mampu melihat bahwa unit yang berada di bawah kendalinya merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa subsistem dan berada dalam supersistem yang lebih besar. Perusahaan atau lembaga adalah suatu sistem yang bersifat fisik, namun dikelola dengan menggunakan suatu sistem konseptual. Sistem konseptual itu terdiri dari suatu pengolah informasi yang mengubah data menjadi informasi dan menggambarkan sumber daya fisik. Penjelasan di atas dapat dipertegas dengan ilustrasi sebagai berikut: Manajer perusahaan berskala kecil dengan aset yang belum begitu besar, dan sumber daya manusia terbatas, misalnya sebuah kios, masih mampu mengelola usahanya dengan mengamati aktiva-aktiva berwujudnya seperti barang dagangan, cash register, ruangan, dan bahkan arus pelanggan. Pada saat skala operasi meningkat menjadi suatu perusahaan dengan ratusan atau ribuan pekerja, dengan operasi yang tersebar di wilayah yang luas, manajer tidak lagi dapat mengandalkan pengamatan, tetapi harus lebih mengandalkan informasi. Manajer memanfaatkan banyak laporan atau informasi untuk memahami atau mengetahui kondisi fisik perusahaan. Sehingga dapat dibayangkan betapa mudahnya seorang direktur memahami seluruh kondisi perusahaan dalam sesaat dengan memanfaatkan informasi, sekaligus mengandalkan informasi tersebut untuk pengambilan keputusan. Dengan demikian para manajer menyadari sepenuhnya bahwa informasi merupakan suber daya yang sangat berharga, sehingga perlu dikelola sebaikbaiknya, hal ini senada dengan pendapat Wahyudi Kumorotomo ((2001:2) yang menjelaskan bahwa semakin banyak organisasi atau perusahaan yang mencurahkan perhatian utamanya pada penciptaan informasi yang bermanfaat bagi manajemen, namun yang lebih penting lagi adalah bahwa hanya perusahaan atau organisasi yang mampu mencari dan mendapatkan informasi secara efektif yang akan berhasil. Lebih jauh Reymond McLeod (2004:3) menjelaskan tentang pentingnya sumber daya inforamsi, dengan memasukkan informasi ke dalam lima jenis utama sumber daya, yaitu: manusia, material, mesin (termasuk fasilitas dan energi), uang, dan informasi (termasuk data). Tugas manajer adalah mengelola kelima sumber daya tersebut agar dapat digunakan dengan cara yang paling efektif. Empat jenis sumber daya yang pertama memiliki wujud (kasat mata), sehingga secara fisik dapat disentuh, dikelola dan dimanfaatkan secara langsung. Sumber daya tersebut dikenal dengan istilah sumber daya fisik, sedangkan sumber daya yang ke lima yaitu informasi, hanya memiliki nilai dari apa yang diwakilinya, bukan dari bentuk atau wujudnya. Sumber daya informasi disebut juga dengan sumber daya konseptual. Para manajer dituntut agar dapat menggunakan sumber daya konseptual untuk mengelola sumber daya fisik. Terkait dengan pendapat di atas Wahyudi Kumorotomo (2001:9) menjelaskan bahwa setiap unsur pembentuk organisasi adalah penting dan harus mendapat perhatian yang utuh supaya manajer dapat bertindak lebih efekti. Kemudian yang dimaksud dengan unsur atau komponen pembentuk organisasi adalah bukan hanya bagian-bagian yang tampak secara fisik, tetapi juga hal-hal yang bersifat abstrak atau konseptual. Sumber daya diperoleh dan disusun agar siap digunakan pada saat diperlukan. Pada proses penyusunan sumber daya mengharuskan kegiatan pengubahan bahan mentah menjadi suatu bentuk yang lebih siap digunakan, menjadi lebih halus, tepat ukuran, akurat, pasti, dan sebagainya. Proses pengolahan atau penyusunan sumber daya menjadi lebih baik tersebut, memerlukan biaya mahal, sehingga setelah sumber daya tersebut disusun seorang manajer dituntut untuk memaksimalkan penggunaan sumber daya dalam kegiatan manajemennya. Selanjutnya manajer harus meminimalkan biaya dan waktu yang terbuang untuk perbaikan sumber daya dengan cara menjaga berfungsinya sumber daya secara kontinyu pada titik efisiensi puncak. Manajer baru melakukan penggantian sumber daya tersebut pada saat kritis, sebelum sumber daya tersebut menjadi tidak efisien atau usang. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sumber daya terdiri dari sumber daya fisik dan sumber daya konseptual. Manajer harus mampu mengelola kedua sumber daya tersebut. Mengelola sumber daya konseptual dalam hal ini informasi tidak semudah mengelola sumber daya fisik, karena obyek yang dikelola hanya merupakan representasi dari suatu benda berujud atau bahkan hanya sebuah fenomena yang hanya dapat dirasakan, didengar atau dicium baunya. Dengan demikian dibutuhkan personal yang memahami value added dari sebuah sumber daya konseptual, agar model dan cara pengelolaannya tepat. Manajer harus memahami bahwa lahirnya sebuah informasi melalui tahapan yang cukup rumit, sehingga mampu memfasilitasi personal yang bertugas mengelola sumber daya konseptual. Fasilitas yang disediakan harus mencakup semua proses pengelolaan informasi mulai dari pengumpulan data mentah, sampai pada kegiatan proses data menjadi sebuah informasi yang berguna. Informasi tersebut selanjutnya akan didistribusikan kepada pihak-pihak dalam organisasi yang layak menerima, dalam bentuk yang tepat, saat yang tepat sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal. Akhirnya manajer akan membuang atau memusnahkan informasi yang tidak berguna untuk diganti dengan informasi yang lebih mutakhir dan akurat. Kegiatan tersebut harus dilakukan oleh personal pengelola sumber daya konseptual dengan dukungan fasilitas yang memadai. Seluruh aktivitas tersebut mulai dari memperolah informasi, menggunakannya seefektif mungkin, dan membuangnya pada saat tidak dibutuhkan lagi, dengan dukungan fasilitas yang memadai oleh Reymond McLeod (2004:4) disebut dengan istilah manajemen informasi.
PERKEMBANGAN MANAJEMEN INFORMASI
Peningkatan penggunaan sistem informasi pada akhir-akhir ini, tidak terlepas dari perhatian manajemen dalam perusahaan terhadap betapa pentingnya manajemen informasni. Para manajer memberikan perhatian yang semakin besar pada manajemen informasi selama beberapa tahun terakhir ini, karena dua alasan utama. Pertama, kegiatan bisnis telah menjadi semakin rumit. Kedua, komputer telah mencapai kemampuan yang semakin baik. Secara lebih rinci dapat dijelaskan sebagai berikut: Kegiatan Bisnis Semakin Rumit Bisnis memang selalu rumit, tetapi sekarang ini lebih rumit dibandingkan sebelumnya. Semua perusahaan terkena pengaruh ekonomi internasional dan bersaing dalam pasar internasional, teknologi bisnis menjadi semakin rumit, batas waktu untuk bertindak semakin singkat dan terdapat pula kendala-kendala sosial. Setiap pengaruh ini memberi kontribusi pada kerumitan bisnis. Mengenai pengaruh ekonomi internasional dapat dimaklumi karena perusahaan-perusahaan besar maupun kecil semua terkena pengaruh ekonomi yang dapat bersumber dari bagian dunia manapun. Pengaruh tersebut dapat terlihat pada nilai relative mata uang tiap negara. Pembeli melakukan pembelian di Negara-negara yang mata uangnya memiliki nilai paling besar. Sebagai contoh, saat Meksiko mendevaluasikan peso pada akhir 1980-an, banyak turis Amerika Serikat yang memutuskan untuk berlibur di Meksiko daripada di tempat lain, seperti Hawaii. Sedangkan persaingan dunia dapat dijelaskan bahwa perusahaanperusahaan tidak lagi bersaing dalam wilayah geografisnya sendiri. Sebaliknya persaingan terjadi pada skala dunia. Dampak dari persaingan ini dapat terlihat pada impor dari luar negeri. Sebagai contoh keputusan General Motors pada awal tahun 1990-an untuk menutup banyak pabriknya menunjukkan bahwa industri raksasa pun tidak terhindar dari dampak persaingan, yang dapat berasal dari bagian dunia manapun. Sementara itu kerumitan teknologi yang meningkat dapat dilihat setiap saat bahwa berbagai teknologi yang diterapkan dalam dunia bisnis selalu mengalami perubahan yang sangat pesat. Bebarapa kemudahan pelayanan teknologi memanjakan manusia seperti bar code scanners di pasar swalayan, sistem pemesanan penerbangan yang berbasis komputer, automated teller machine, dan closed circuit television di gedung-gedung parkir. Juga terdapat banyak teknologi di belakang layar, yang tidak terlihat misalnya robot-robot pabrik, serta peralatan otomatis untuk penanganan dan penyimpanan barang dagangan. Perusahaan-perusahaan melakukan investasi pada teknologi ini supaya mereka dapat melaksanakan operasi yang diperlukan secara lebih efektif. Batas waktu juga semakin singkat, dapat diketahui bahwa semua tahap operasi bisnis sekarang ini dilaksanakan secara lebih cepat daripada sebelumnya. Para wiraniaga melakukan pemasaran melalui telepon (telemarketing) untuk menghubungi pelanggan mereka dalam beberapa detik, perintah penjualan dikirim secara elektronik dari satu komputer ke komputer yang lain, dan pabrik membuat jadwal pengiriman material agar tiba tepat pada waktunya (just in time). Namun demikian kendala-kendala social juga tetap ada, di mana tidak semua tekanan mendukung produksi, sebagian malah mendorong non-produksi. Hal ini nyata pada produk dan jasa yang tidak diinginkan masyarakat. Keputusan-keputusan bisnis harus didasarkan pada faktor-faktor ekonomis, tetapi keuntungan dan biaya sosial harus juga dipertimbangkan. Perluasan pabrik, produk baru, tempat penjualan baru, dan tindakan-tindakan serupa semuanya harus dipertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Kemampuan Komputer yang Semakin Baik Dalam hal ukuran dan kecepatannya, komputer-komputer tahun 1950-an dan 1960-an tampak seperti dinosaurus dari Jurassic Park. Komputer-komputer ini ditempatkan dalam “ruangan besar” dan hanya boleh disentuh oleh para spesialis komputer perusahaan. Para pemakai tidak pernah berhubungan langsung dengan perangkat keras, tetapi pengaturan seperti ini di rasa cocok oleh para pemakai. Umumnya, pemakai tidak tahu cara menggunakan komputer dan takut untuk belajar. Para pemakai komputer sekarang justru sebaliknya, sangat mungkin memiliki terminal keyboard atau komputer mikro di ruangan mereka. Banyak komputer mikro dihubungkan dengan komputer-komputer lain dalam suatu jaringan. Bukan hanya komputer yang tersedia, para pemakai pun tahu cara menggunakannya. Para pemakai sekarang tidak memandang komputer sebagai sesuatu yang istimewa tetapi sebagai bagian peralatan kantor yang dibutuhkan, seperti halnya meja, telepon atau mesin fotokopi.
PEMAKAI INFORMASI
Awalnya pemakai output komputer adalah pegawai administrasi di bagian akutansi, yang komputernya melaksanakan aplikasi seperti pembayaran gaji, pengelolaan persediaan, dan penagihan. Sebagian informasi juga di sediakan bagi para menejer, tetapi hanya sebagai produk sampingan dari aplikasi akuntansi Gagasan untuk menggunakan komputer sebagai suatu sistem informasi manajemen (SIM), merupakan suatu terobosan besar, karena menyadari bahwa para manajer memerlukan informasi untuk pemecahan masalah. Saat perusahaan-perusahaan menjangkau konsep SIM, mulai dikembangkan berbagai aplikasi yang secara khusus diarahkan untuk mendukung manajemen. Kroenke dalam Abdul Kadir (2003:5) menjelaskan bahwa sistem informasi memberikan nilai tambah terhadap proses produksi, kualitas, manajemen, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah serta keunggulan kompetitif yang tentu saja sangat berguna bagi kegiatan bisnis. Sebenarnya bukan hanya manajer yang memperoleh manfaat dari SIM, para pegawai non-manajer juga menggunakan produk SIM, bahkan yang berada di luar perusahaan, seperti para pelanggan yang menerima faktur dan laporan, para pemegang saham menerima cek dividen, dan pemerintah menerima laporan pajak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa para pemakai SIM meliputi: manajer, non-manajer, orang atau organisasi di luar perusahaan.
FUNGSI DAN PERAN MANAJER
Pada tahun 1914, seorang ahli teori manajemen berkebangsaan Perancis, Henry Fayol, menyatakan bahwa manajer melaksanakan lima fungsi-fungsi manajemen yang utama. Pertama, manajer merencanakan (plan) apa yang akan mereka lakukan. Kemudian, menyusun staf (staff) organisasi mereka dengan sumber daya yang diperlukan. Dengan sumber daya yang ada, mereka mengarahkan (direct) untuk melaksanakan rencana. Akhirnya mereka mengendalikan (control) sumber daya, menjaganya agar tetap beroperasi secara optimal. Semua manajer, apapun tingkatannya melaksanakan fungsi-fungsi tersebut, walaupun mungkin dengan penekanan yang berlainan. Sementara itu Henry Mintzberg, professor pada McGill University Kanada, menganggap bahwa fungsi-fungsi Fayol tidak memberikan gambaran yang menyeluruh. Ia mengembangkan kerangka kerja yang lebih yang harus dimainkan oleh manajer, meliputi aktivitas antar-pribadi (interpersonal), informasi (informational) dan keputusan (decisional). Sistem informasi manajemen yang baik, dirancang berdasarkan fungsifungsi dan peran-peran manajerial tersebut. Di samping itu agar SIM yang dirancang oleh suatu lembaga benar-benar fungsional, maka harus dikembangkan dengan memperhatikan keahlian yang harus dimiliki oleh seorang manajer Reymond McLeod (2004:7-8). Keahlian tersebut meliputi keahlian dalam berkomunikasi dan keahlian dalam memecahkan masalah. Keahlian tersebut akan segera terbentuk apabila SIM yang dikembangkan benar-benar fungsional. Keahlian manajer dalam berkomunikasi meliputi kegiatan menerima dan mengirimkan informasi dalam bentuk lisan atau tertulis. Komunikasi tertulis meliputi laporan, surat, memo, surat elektronik dan terbitan berkala. Komunikasi lisan terjadi saat rapat, saat menggunakan telepon atau voice mail, saat meninjau fasilitas, dan selama acara makan, bisnis serta berbagai kegiatan sosial. Tiap manajer memiliki pilihan medianya sendiri. Seorang manajer mungkin lebih menyukai percakapan telepon daripada surat elektronik, sementara yang lain mungkin kebalikannya. Para manajer menyusun suatu perpaduan media komunikasi yang sesuai dengan gaya manajemen mereka. Keahlian manajer dalam memecahkan masalah (problem solving) dapat didefinisikan sebagai semua kegiatan yang mengarah pada solusi suatu permasalahan. Masalah biasanya dianggap sebagai sesuatu yang selalu buruk, karena sangat sedikit yang menganggap masalah sebagai sesuatu untuk meraih kesempatan. Hasil dari aktivitas pemecahan masalah adalah solusi. Selama proses pemecahan masalah, manajer terlibat dalam pengambilan keputusan (decision making), yaitu tindakan memilih dari berbagai alternatif tindakan. Keputusan adalah suatu tindakan tertentu yang telah dipilih.
MANAJER DAN SISTEM
Ahli-ahli manajemen sering mangatakan bahwa jika seorang manajer memandang organisasinya sebagai suatu sistem, hal itu akan menjadikan pemecahan masalah lebih mudah dan lebih efektif. Sistem adalah sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai tujuan. Suatu organisasi seperti perusahaan atau suatu area bisnis cocok dengan definisi ini. Organisasi terdiri dari sejumlah sumber daya, di mana sumber daya tersebut bekerja menuju tujuan tertentu yang telah ditentukan oleh pemilik atau manajemen. Di samping konsep sistem, ada lagi konsep supersistem dan subsistem. Jika suatu sistem adalah bagian dari sistem yang lebih besar, sistem yang lebih besar itu adalah supersistem. Contohnya, pemerintahan kota adalah suatu sistem, tetapi ia juga merupakan bagian dari sistem yang lebih besar yaitu pemerintahan propinsi. Pemerintahan propinsi adalah supersistem dari pemerintahan kota dan juga merupakan subsistem dari pemerintahan nasional. Dalam dunia bisnis, sistem perusahaan berada dalam satu atau lebih sistem lingkungan yang lebih besar atau supersistem. Jika perusahaan itu suatu bank, misalnya, perusahaan tersebut merupakan bagian dari masyarakat keuangan. perusahaan tersebut juga merupakan bagian dari masyarakat bisnis, masyarakat setempat, dan masyarakat global. Sistem perusahaan juga mencakup sistem-sistem yang lebih kecil atau subsistem. Subsistem dari bank mungkin barupa departemen-departemen seperti tabungan, rekening koran dan pinjaman angsuran. Walaupun tiap subsistem ini memiliki tujuannya masing-masing, tujuan-tujuan bawahan ini mendukung dan memberi kontribusi pada tujuan keseluruhan perusahaan. Antara supersistem, sistem dan subsistem harus terjalin dalam satu kesatuan yang bersinergi. Ketiganya harus diikat dalam sebuah sistem informasi manajemen. Dengan demikian sistem informasi yang menghasilkan informasi dengan akurasi dan presisi tinggi menjadi sebuah keharusan, agar ketiga sistem tersebut dapat berjalan seiring dan sejalan dalam mencapai tujuan. Manajer pada tingkat supersistem disebut manajer puncak (top manger), manajer pada tingkat sistem disebut manajer menengah (middle manager), dan manajer pada tingkat subsistem disebut manajer rendah (lower manager). Ketiga tingkat manajer tersebut dapat bekerjasama dengan baik apabila didukung oleh sistem informasi yang handal, yang mampu menghasilkan informasi yang memiliki akurasi dan presisi tinggi, sehingga keputusan yang diambil pada tingkat manajer puncak tidak akan bertentangan dengan keputusan pada tingkat manajer rendah, atau sebalinya. Hal ini hanya mungkin terjadi apabila sistem informasi yang digunakan sudah berbasis komputer (CBIS), dan saling berhubungan satu sama lain. Sejalan dengan pendapat di atas mengenai kualitas informasi agar dapat digunakan untuk mengambil keputusan secara tepat, Abdul Kadir (2003:46) menjelaskan bahwa informasi yang berkualitas adalah informasi yang baik, yang memiliki karakteristik : relevansi, ketepatan waktu, dan keakurasian. MACAM DAN NILAI CBIS Manajer membuat keputusan untuk memecahkan masalah, dan informasi digunakan dalam membuat keputusan. Informasi disajikan dalam bentuk lisan maupun tertulis oleh suatu pengolah informasi. Porsi komputer dalam mengolah informasi terdiri dari berbagai aplikasi berbasis komputer, seperti SIA, SIM, DSS, kantor virtual dan sistem berbasis pengetahuan, Reymond McLeod (2004:14). Istilah yang mencakup semua aplikasi berbasis komputer adalah sistem informasi berbasis komputer (computer based information system), atau CBIS, untuk menggambarkan lima subsistem yang menggunakan komputer. Semua subsistem CBIS menyediakan informasi untuk pemecahan masalah. Tanpa memandang apakah spesialis informasi atau pemakai yang mengembangkan aplikasi, CBIS harus dinilai dengan cara yang sama seperti investasi besar lain dalam perusahaan. Sebenarnya sangat sulit mengukur nilai CBIS, ada perusahaan yang mencoba menimbang nilai komputer berdasarkan biaya tenaga administrasi (clerical cost) yang digantikan. Sebenarnya hal ini tidaklah tepat, karena setelah ada CBIS hanya sedikit pegawai administrasi yang kehilangan pekerjaanya. Namun manfaat yang besar diperoleh perusahaan setelah ada CBIS, yaitu mampu mencapai peningkatan efisiensi dan efektivitas, bahkan mampu mengurangi investasi. Sebagi bukti bahwa CBIS itu lebih efisien dari pendahulunya (sistem manual), dijelaskan oleh Reymond McLeod (2004:19) bahwa salah satu aplikasi komputer pertama adalah pengendalian persediaan dan perusahaan umumnya dapat mengurangi investasi persediaan mereka dengan mengkomputerisasi catatan persediaan. Karena sukarnya mengukur nilai CBIS, perusahaan-perusahaan sangat berhati-hati dalam membuat keputusan untuk menerapkan sistem seperti itu. Banyak waktu manajer dan staf yang dihabiskan untuk mengevaluasi dampak sistem itu pada organisasi. Menimbang-nilai CBIS, dengan menggunakan gabungan ukuran-ukuran kuantitatif dan subyektif, adalah langkah kunci dalam mencapai sumber daya yang berharga ini. Dalam beberapa hal, nilai CBIS juga dapat dipertimbangkan dari siklus CBIS. Tiap subsistem CBIS menyerupai suatu organisme hidup yaitu : lahir, bertumbuh, menjadi matang, berfungsi dan akhirnya mati. Proses evolusi ini disebut siklus hidup sistem (system life cycle – SLC), dan terdiri dari tahap-tahap berikut: (1) Perencanaan; (2) Analisis; (3) Rancangan; (4) Penerapan; dan (5) Penggunaan. Siklus hidup suatu sistem berbasis komputer mungkin hanya berlangsung beberapa bulan, atau mungkin berlangsung beberapa tahun, sehingga dapat dikatakan bahwa CBIS mempunyai biaya yang tinggi. Cepat atau lambat, sifat dinamis kebutuhan informasi akan melampaui kemampuan sistem informasi, sehingga sistem itu harus diperbarui. Tahap-tahap siklus hidup sistem membentuk suatu pola lingkaran. Saat suatu sistem berakhir masa kegunaannya dan harus diganti, suatu siklus hidup baru dimulai, diawali dengan tahap perencanaan. Walau banyak orang mungkin menyumbangkan keahlian khusus mereka untuk pengembangan sistem berbasis komputer, pemakailah yang bertanggung jawab atas siklus hidup sistem. Sesuai dengan penekanan pada manajer sebagai pemakai, tanggung jawab untuk mengelola CBIS ditugaskan pada manajer. Manajer ini adalah manajer dari unit organisasi tempat diaplikasikannya komputer dan dapat ditempatkan di mana saja di dalam perusahaan. Seiring berkembangnya CBIS, manajer merencanakan siklus hidup dan mengatur para spesialis informasi yang terlibat. Setelah penerapan, manajer mengendalikan CBIS untuk memastikan bahwa sistem tersebut terus menyediakan dukungan yang diharapkan. Saat manajer memilih untuk memanfaatkan dukungan para spesialis informasi, kedua pihak bekerja sama untuk mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah, mengidentifikasi dan mengevaluasi solusi alternatif, memilih solusi terbaik, merakit perangkat keras dan perangkat lunak yang sesuai, menciptakan database, dan menjaga kemutakhiran sistem. Semua kegiatan tersebut akan dapat dilakukan dalam waktu relative singkat apabila perusahaan telah menggunakan sistem informasi berbasis komputer. PENUTUP Kemajuan jaman ditandai dengan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk di dalamnya kemajuan di bidang teknologi informasi. Suatu lembaga selalu membutuhkan informasi yang terkini dan memiliki akurasi yang cukup tinggi untuk mendukung pengambilan kebijakan-kebijakannya, apabila ingin meraih keunggulan kompetitif. Informasi menjadi sangat penting bagi siapapun yang ingin menguasai keunggulan. Informasi adalah salah satu dari lima jenis utama sumber daya yang dapat dipakai oleh manajer. Semua sumber daya termasuk informasi dapat dikelola. Pengelolaan informasi semakin penting seiring dengan rumitnya kegiatan bisnis yang setiap saat membutuhkan informasi yang akurat dan demi pelayanan yang memuskan pada para pelanggan. Pengelolaan informasi juga lebih menantang sejalan dengan perkembangan kemampuan komputer saat ini. Produk komputer digunakan oleh berbagai pihak untuk bahan pengambilan keputusan, terutama seorang manajer dalam suatu perusahaan. Saat para manajer melakukan fungsi dan perannya, memerlukan dukungan informasi yang akurat, cepat dan tepat agar dapat melakukan tugasnya secara efektif dan efisien. Hal ini akan terwujud apabila manajer memiliki keahlian dalam bidang komunikasi dan pemecahan masalah dengan pengetahuan tentang komputer dan informasi. Selanjutnya pengelolaan informasi akan merupakan sebuah sistem, yang saling tergantung sekaligus bersinergi antar berbagai komponen yang membentuk sistem tersebut. Sistem ini dikenal dengan sistem informasi. Karena digunakan untuk membantu manajer dalam mengambil kebijakan maka disebut dengan sistem informasi manajemen. Akibat perkembangan lembaga yang dikelolanya manajer tidak hanya mengelola sumber daya fisik saja, tetapi juga sumber daya konseptual. Sumber daya konseptual sangat abstrak sehingga sulit untuk dikelola. Cara pengelolaannya adalah dengan mengubah menjadi simbol-simbol yang memiliki value (nilai), sehingga dapat dikalkulasi. Cara pengelolaan sumber daya koseptual ini yang paling tepat adalah dengan menggunakan bantuan mesin, dalam hal ini komputer. Dengan demikian sistem informasi manajemen akan lebih efektif apabila dikelola atau berbasis komputer. Sistem informasi berbasis komputer tersebut lebih dikenal sebagai (computer-based information system) atau CBIS.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Kadir, 2003, Pengenalan Sistem Informasi, Yogyakarta : Andi Offset. Brown, Carol V., dan Bostrom, Robert P. (Spring:1994). “Organization Designs for the Management of End-User Computing: Reexamining the Contingencies.” Journal of Management Information System. Cale, Edward G., Jr., dan Kanter, Jerry. (Number 1: 1998). “Aligning Information Systems and Business Strategy : A Case Study”. Journal of Information Technology Management. Mirani, Rajesh, dan King, William R. 1994. “The Development of a Measure for End – User Computing Support,” Decision Sciences. Moekijat, 1988, Sistem Informasi Manajemen, Bandung : CV Remaja Karya. Raymond McLeod, Jr. dan George Schell. 2004. Sistem Informasi Manajemen (terjemahan). Jakarta: PT Indeks Siagian, S.P, 1984, Sistem Informasi untuk Pengambilan Keputusan, Jakarta : Gunung Agung. Wahyudi Kumorotomo dan Subando Agus Martono, 2001, Sistem Informasi Manajemen, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Yoder, D. 1964. Handbook of Personnel Management and Labour Relation, New York: Long Man. Yogiyantoro HM, 1990, Analisis dan Desain Sistem Informasi : Pendekatan Terstruktur, Yogyakarta : Andi Offset. _____, 2000, Sistem Informasi Berbasis Komputer : Konsep Dasar dan Komponen, Edisi Ketiga, Yogyakarta : BPFE Yoon, Younghoc. (Spring : 1999). “Discovering Knowledge in Corporate Databases.” Information Systems Management. BIODATA : Saliman, lahir di Kutasari, Purbalingga, 3 Agustus 1966 adalah Lektor Kepala pada Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta.
Rabu, 08 Juli 2020
Perancangan Halaman Web
Disini Saya akan mengembangkan menu hubungi kami. Dimenu hubungi kami ini akan terdapat kontak yang dapat dihubungin jikalau Ada kesulitan pada saat mengakses web ini.
Selasa, 07 Juli 2020
SISTEM INFORMASI KOMPUTER OTOMATISASI PERKANTORAN DAN SISTEM PAKAR
Pengertian Sistem Informasi Berbasis Computer (CBIS)
Computer Based Information System (CBIS) atau Sistem Informasi Berbasis Komputer merupakan suatu sistem pengolah data menjadi sebuah informasi yang berkualitas dan dipergunakan untuk suatu alat bantu Sistem Informasi “berbasis komputer” mengandung arti bahwa komputer memainkan peranan penting dalam sebuah sistem pembangkit informasi. Dengan integrasi yang dimiliki antar subsistemnya, sistem informasi akan mampu menyediakan informasi yang berkualitas, tepat, cepat dan akurat sesuai dengan manajemen yang membutuhkannya.
Sistem Informasi Berbasis Komputer atau Computer Based Information System (CBIS) merupakan sistem pengolahan suatu data menjadi sebuah informasi yang berkualitas dan dapat dipergunakan sebagai alat bantu yang mendukung pengambilan keputusan, koordinasi dan kendali serta visualisasi dan analisis.
Pengertian Otomatisasi Komputer
Otomatisasi kantor merupakan penggunaan alat elektronik yang digunakan untuk memudahkan komunikasi formal dan informal terutama yang berkaitan dengan komunikasi informasi dengan orang-orang didalam dan diluar perusahaan. O’Brien ( 1996 ) mendefinisikan otomatisasi kantor sebagai sistem informasi berbasis telekomunikasi yang mengumpulkan, memproses, menyimpan dan mendistribusikan pesan-pesan, dokumen-dokumen dan komunikasi elektronik lainnya diantara individual, grup-grup kerja dan organisasi Otomatisasi perkantoran berawal dari tahun 1960, ketika IBM menciptakan istilah word-processing untuk menjelaskan kegiatan devisi mesin TIK listriknya. Pada tahun 1964, ketika IBM memasarkan mesin yang disebut Magnetic Tape/Selectric Typewriter (MT/ST) yaitu mesin ketik yang dapat mengetik kata-kata yang telah direkam dalam pita magnetik secara otomatis. Kata "Otomatisasi" memiliki pengertian penggunaan mesin untuk menjalankan tugas fisik yang biasa dilakukan oleh manusia. Otomatisasi kantor biasanya dikenal dengan istilah Office Automation atau OA.
Tujuan Otomatisasi Komputer
Otomatisasi Perkantoran, OA atau Office Automation bertujuan untuk meningkatkan produktivitas kerja melalui :
- Meminimalkan pengeluaran pada biaya, munculnya komputer dapat menghemat biaya dimana komputer dapat menggantikan dan meringankan tugas pekerja dari berat menjadi ringan
- Pemecahan masalah kelompok, otomatisasi kantor dapat memberikan kemampuan antara manajer untuk saling melakukan komunikasi dengan lebih baik dalam memecahkan masalah
- Pelengkap bukan pengganti, dalam hal ini tidak akan menggantikan semua komunikasi interpersonal tradisional, seperti percakapan tatap muka, percakapan telepon, pesan tertulis pada memo, dan sejenisnya. Pelengkap informasi ini digunakan agar dapat lebih baik dalam berkomunikasi.
- Meningkatkan produktivitas dan efektivitas pekerjaan.
- Peningkatan komunikasi dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik dan lebih cepat
Manfaat yang dapat diperoleh perusahaan dalam pemanfaatan sistem otomatisasi
perkantoran, diantaranya :
- Otomatisasi perkantoran membuat informasi menjadi lebih murah dan mudah digunakan, dipindahkan, dan dirawat.
- Dapat meletakkan landasan yang kuat untuk integrasi informasi sehinggga perusahaan mampu berkompetisi lebih baik.
- Komputer tidak menggantikan pekerja saat ini, komputer mampu menunda penambahan pegawai yang diperlukan untuk menangani beban kerja yang bertambah.
- Pemecahan masalah kelompok/tim
- Dilihat dari tenaga penggeraknya ; Mesin manual ialah mesin-mesin yang digerakkan oleh tenanga manusia Mesin listrik (elektrik)
- Dilihat dari cara kerja dan komponen mesinnya ; Mesin mekanik yaitu mesin-mesin yang rangkaian komponennya tampak bergerak dalam operasinya.
- Dilihat dari fungsinya dalam berbagai pekerjaan kantor ; Mesin-mesin untuk mencatat bahan keterangan, diantaranya adalah mesin tulis, mesin dikte,mesin penomor, dan asalah pensil
• Jenis Organisasi, yaitu seorang manajer diperusahaan dengan satu lokasi tidak
akan mempertimbangkan konferensi audio dan video.
• Pilihan pribadi, manajer yang memilih komunikasi tatap muka tertarik pada
konferensi video dan memanfaatkan kalender elektronik.
• Sumber daya OA yang tersedia paduan manajer dibatasi oleh sumber oleh
sumber daya OA yang tersedia dalam perusahaan.
Pengguna Otomatisasi Komputer
Otomatisasi Kantor digunakan oleh semua orang yang bekerja di dalam kantor.
Pada dasarnya terdapat 4 kategori pengguna Otomatisasi Kantor, yaitu :
- manajer
- profesional
- sekretaris
- pegawai administratif
Cara Menerapkan (Virtual Office)
a. Menyediakan sumber daya komputer
b. Menyediakan sarana akses ke sumber daya informasi
c. Menyediakan perlengkapan non komputer
d. Menyiapkan sarana telepon yang dapat dialihkan
e. Menyediakan kelengkapan untuk panggilan konferensi
f. Membuat jadwal pertemuan reguler
g. Melaksanakan urutan-urutan pekerjaan secara teratur
Manfaat Menerapkan Kantor Virtual dalam Bisnis
Penerapan kantor virtual dalam dunia bisnis memiliki beberapa manfaat yaitu
sebagai berikut :
a. Lebih fleksibel
b. Hemat biaya
c. Banyak pilihan pekerjaan
d. Penghasilan tak terbatas
e. Banyak mempunyai waktu luang dengan keluarga
Keuntungan dari kantor virtual :
a. Pengurangan biaya fasilitas
b. Pengurangan biaya peralatan
c. Jaringan komunikasi formal
d. Pengurangan penghentian kerja
e. Kontribusi sosial
Kerugian dari kantor virtual :
a. Rasa tidak memiliki
b. Takut kehilangan pekerjaan
c. Semangat kerja yang rendah
d. Ketegangan keluarga
Jenis-jenis Aplikasi Otomatisasi Kantor
Perkantoran merupakan kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan dalam
perolehan,pencatatan, penyimpanan, penganalisaan, dan pengkomunikasian
informasi.
Berikut ini adalah jenis-jenis aplikasi otomatisasi perkantoran yang dapat
digunakan :
1. Pengolahan Kata (Word Processing)
2. Surat Elektronik (Electronic Mail/E-mail)
3. Voice Mail
4. Kalender Elektronik (Electronic Calendaring)
5. Konferensi Audio (Audio Conferencing)
6. Konferensi Video
Sistem Pakar
Konsep sistem pakar adalah menirukan metodologi dan kinerja seorang
manusia yang ahli dalam bidang atau domain tertentu yang spesifik.(Setiawan,
1993). Sistem pakar adalah program pemberian nasehat (advice giving) atau
program konsultasi yang mengandung pengetahuan dan pengalaman yang
dimasuki oleh satu atau banyak pakar kedalam satu domain pengetahuan tertentu.
Agar setiap orang biasa memanfaatkannya untuk memecahkan suatu masalah.
(Suparman,1991).
Kelebihan yang diperoleh dari sistem pakar yaitu:
• Memungkinkan orang awam bisa melakukan pekerjaan seorang pakar.
• Meningkatkan produktivitas kerja dengan jalan meningkatkan efisiensi
pekerjaan.
• Menghemat waktu dalam menyelesaikan pekerjaan atau masalah yang
kompleks.
• Menyederhanakan beberapa operasi.
• Pengolahan berulang-ulang secara otomatis.
• Tersedianya pengetahuan pakar bagi masyarakat luas
kelemahan sistem pakar yaitu:
• Pengembangan sistem pakar sangat sulit, seorang pakar yang baik sulit
diperoleh. Memedatkan pengeahuan seorang pakar dan mengalihkannya
menjadi sebuah program merupakan pekerjaan yang melelahkan dan
memerlukan biaya yang besar.
• Sistem pakar sangat mahal untuk mengembangkan, mencoba dan
mengirimkannya ke pemakai terakhir memerlukan biaya tinggi.
• Hampir semua sistem pakar (expert system) masih harus
dapatdimplementasikan dalam komputer besar, sistem pakar yang
dijalankan pada komputer pribadi tergolong sistem apkar kecil dan kurang
canggih.
• Sistem pakar tidak 100 % menguntungkan karena produk seseorang tidak
ada yang sempurna dan tidak selalu benar, oleh karena itu perlu dikaji
ulang secara teliti sebelum digunakan.
Tahapan-tahapan pengembangan sistem pakar antara lain:
• Identifikasi, Merupakan tahap penentuan hal-hal yang penting sebagai
dasar dari permasalahan yang akan dianalisis.
• Konseptualitas, Hasil identifikasi masalah, dikonseptualisasikan dalam
bentuk relasi antar data, hubungan antar pengetahuan dan konsep-konsep
penting dan ideal yang akan diterapkan.
• Formalisasi, Konsep-konsep dari konseptualisasi diimplementasikan
secara formal dalam tahap formalisasi.
• Implementasi, Apabila pengetahuan sudah diformalisasikan secara
lengkap maka tahap implementasi dapat dimulai dengan membuat garis
besar masalah kemudian memecahkan masalah kedalam modul-modul.
• Evaluasi, Tahap ini merupakan tahap pengujian terhadap sistem pakar
yang telah dibangun dan untuk menemukan kesalahan-kesalahan yang
masih ada.
• Pengembangan sistem, Fungsi dari pengembangan sistem adalah agar
sistem yang dibangun tidak menjadi usang dan investasi tidak sia-sia. Hal
pengembangan sistem yang paling berguna adalah proses dokumentasi
sistem dimana didalamnya tersimpan semua hal penting yang menjadi
tolak ukur pengembangan sistem di masa mendatang.
Ada 4 bentuk sistem pakar, yaitu :
• Berdiri sendiri. Sistem pakar jenis ini merupakan software yang berdirisendiri tidak tergantung dengan software yang lainnya.
• Sistem pakar jenis ini merupakan bagian program yang terkandung
didalam suatu algoritma (konvensional), atau merupakanprogram dimana
didalamnya memanggil algoritma subrutin lain(konvensional).
• Menghubungkan ke software lain . Bentuk ini biasanya merupakan
systempakar yang menghubungkan ke suatu paket program tertentu,
misalnya
• Sistem Mengabdi. Sistem pakar merupakan bagian dari komputer
khususyang dihubungkan dengan suatu fungsi tertentu. Misalnya sistem
pakar yang digunakan untuk membantu menganalisis data radar
Contoh beberapa sistem pakar
XSEL, MYCIN , PROSPECTOR.
Model konseptual sistem pakar yang paling umum bahwa terdapat 4 buah komponen penting, yakni :
• Basis pengetahuan merupakan komponen yang berisi pengetahuanpengetahuan yang berasal dari pakar. Berisi sekumpulan fakta (fact) dan
aturan (rule). Fakta berupa situasi masalah dan teori tentang area masalah.
Aturan adalah suatu arahan yang menggunakan pengetahuan untuk
memecahkan masalah pada bidang tertentu.
• Mesin inferensi adalah komponen yang menjadi otak sistem pakar.
Bagian inilah yang berfungsi melakukan penalaran dan pengambilan
kesimpulan.
• Fasilitas penjelas merupakan komponen yang berfungsi untuk memberikan penjelasan kepada pemakai yang memintanya. Jenis pertanyaan yang dapat ditangani biasanya berupa “Mengapa” dan “Bagaimana”. Tidak
semua sistem pakar menyediakan bagian ini. Contoh berikut mem-berikan
gambaran tentang penjelasan oleh sistem pakar.
• Antarmuka pemakai merupakai bagian yang menjembatani antara sistem
dan pemakai. Melalui bagian inilah pemakai berkomunikasi dengan
sistem.
contoh sistem yang termasuk otomasi perkantoran yaitu melakukan meeting menggunakan aplikasi video call
Rabu, 01 Juli 2020
jurnal internasional tentang teknologi sistem pendukung keputusan
jurnal internasional tentang teknologi sistem pendukung keputusan
Meneliti Implikasi Proses dan Pilihan untuk Efektivitas Pengambilan Keputusan Strategis
ABSTRAK
Sebagian besar pendekatan pengambilan keputusan strategis (SDM) menganjurkan pentingnya proses pengambilan keputusan dan pilihan respons untuk memperoleh hasil yang efektif. Teknologi sistem pendukung pengambilan keputusan (DMSS) modern sering juga diperlukan untuk SDM yang kompleks, dengan penelitian terbaru menyerukan pendekatan DMSS yang lebih integratif. Namun, para cendekiawan cenderung mengambil pendekatan terpecah dan tidak setuju pada apakah proses pengambilan keputusan yang rasional atau politis menghasilkan hasil keputusan yang lebih efektif. Dalam studi ini, penulis memeriksa masalah ini dengan terlebih dahulu mengeksplorasi beberapa argumen teoretis yang bersaing untuk hubungan efektivitas proses-pilihan, dan kemudian menguji hubungan ini secara empiris menggunakan data dari latihan pelatihan respons krisis menggunakan DMSS berbasis agen yang cerdas. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, temuan menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan rasional tidak efektif dalam konteks krisis, dan bahwa proses pengambilan keputusan politik dapat memengaruhi secara negatif baik pilihan respons maupun efektivitas keputusan. Hasil ini menawarkan bukti empiris untuk mengkonfirmasi argumen yang sebelumnya tidak didukung bahwa pilihan respons adalah faktor mediasi penting antara proses pengambilan keputusan dan efektivitasnya. Para penulis menyimpulkan dengan diskusi tentang implikasi dari temuan ini dan penerapan teknologi DMSS simulasi berbasis agen untuk penelitian dan praktik akademik.
PENGANTAR
Pengambilan keputusan strategis (SDM) melibatkan metode dan praktik yang digunakan organisasi untuk menafsirkan peluang dan ancaman di lingkungan dan kemudian membuat keputusan respons (Shrivastava & Grant, 1985). Teknologi modern sistem pengambilan keputusan (DMSS) sering juga diperlukan untuk SDM yang kompleks, dengan penelitian terbaru yang menyerukan pendekatan DMSS yang lebih integratif (Mora, Forgionne, Cervantes, Garido, Gupta, & Gelman, 2005; Phillips-Wren, Mora, Forgionne, & Gupta, 2009). Teknologi DMSS seperti ini menawarkan jenis platform teknologi penelitian yang kaya dan kuat dengan tingkat validitas eksternal dan internal yang tinggi serta keandalan yang diperlukan untuk dukungan keputusan terintegrasi.
Kondisi ketidakpastian di lingkungan yang sangat bergejolak (misalnya, respons krisis), pada dasarnya, semakin mempersulit proses SDM, dan dapat membatasi efektivitas pengambilan keputusan (Ramirez-Marquez & Farr, 2009). Yang menjadi masalah adalah anggapan perlunya kecepatan respon di mana logika menentukan bahwa keputusan yang memuaskan yang dibuat dengan cepat lebih unggul daripada keputusan yang optimal yang dibuat terlambat. Dua dari proses pengambilan keputusan yang paling umum diterima, dan banyak digunakan dalam konteks ini adalah perilaku politik dan rasionalitas prosedural (Fredrickson & Mitchell, 1984; Hart, 1992; Eisenhardt & Zbaracki, 1992; Dean & Sharfman, 1993; Hart & Banbury, 1994; Radner, 2000; Hough & White, 2003; Elbana & Child, 2007). Penelitian sebelumnya menganjurkan bahwa proses 'politik' akan lebih efektif dalam konteks ini, dan bahwa proses pengambilan keputusan 'rasional' akan kurang efektif di lingkungan yang tidak stabil (Fredrickson & Mitchell, 1984).
Penelitian selanjutnya mempertimbangkan efektivitas proses dalam lingkungan 'kecepatan tinggi' dan menganjurkan bahwa proses pengambilan keputusan yang rasional akan memungkinkan untuk respon yang lebih cepat dan akan lebih efektif daripada proses pengambilan keputusan politik dalam konteks ini (Bourgeois & Eisenhardt, 1988; Eisenhardt, 1989 ). Hart (1992) kemudian memperluas argumen ini untuk mengembangkan kerangka kerja untuk proses pengambilan keputusan yang melibatkan berbagai bentuk yang berasal dari basis politik atau rasional, dan juga berpendapat bahwa pendekatan 'rasional' harus berhubungan positif dengan efektivitas, sementara pendekatan yang lebih 'politis'.
Secara kolektif, literatur tentang efektivitas proses SDM ini di berbagai pengaturan bertentangan karena beberapa penelitian menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan rasional akan berhubungan positif dengan efektivitas (Bourgeois & Eisenhardt, 1988; Eisenhardt, 1989; Hart, 1992) dan proses pengambilan keputusan politik tidak akan efektif (Hart, 1992), sementara yang lain menyarankan untuk proses pengambilan keputusan politik dan melawan proses pengambilan keputusan yang rasional
(Fredrickson & Mitchell, 1984). Dengan adanya konflik ini, dan fakta bahwa perbedaan-perbedaan ini sebagian besar tidak terselesaikan secara empiris, salah satu kontribusi dari penelitian ini adalah bahwa kami menguji implikasi efektif dari proses-proses SDM politis dan rasional. Dengan melakukan itu, kami menawarkan beberapa klarifikasi dan resolusi prediksi dan temuan yang bertentangan dari Fredrickson dan Mitchell (1984), Bourgeois dan Eisenhardt (1988), dan Hart (1992). Lebih lanjut, sementara kesimpulan peran mediasi untuk pilihan respon berteori dengan baik, itu juga sebagian besar belum diuji secara empiris dalam pekerjaan sebelumnya. Oleh karena itu, kontribusi lebih lanjut dari penelitian ini adalah bahwa kami juga berusaha untuk mempertimbangkan peran mediasi pilihan ini pada efektivitas keputusan.
Dalam penelitian ini kami membahas beberapa pertanyaan penelitian khusus: 1) Apakah variasi dalam proses pengambilan keputusan menghasilkan variasi dalam pilihan respons; 2) Apakah variasi dalam pilihan jawaban menghasilkan variasi dalam efektivitas keputusan; dan 3) Bisakah kita juga melacak efektivitas berbagai proses SDM yang dimediasi melalui pilihan respons tertentu? Karena manajemen dapat memengaruhi proses SDM, pertanyaan ketiga cenderung lebih menarik daripada pertanyaan kedua. Namun, jika kita hanya melihat hubungan langsung antara proses SDM dan efektivitas (mis., Dean & Sharfman, 1996), kita mungkin mengaitkan perbedaan dalam efektivitas dengan proses variasi ketika variasi ini tidak benar-benar mempengaruhi pilihan. Dengan demikian, kita perlu cukup membedakan proses SDM mana yang lebih efektif dalam situasi ini dan menghasilkan hasil yang paling efektif. Mengatasi pertanyaan-pertanyaan ini membantu untuk mengklarifikasi pengaruh proses dan pilihan yang terintegrasi pada efektivitas pengambilan keputusan strategis.
Makalah ini menghasilkan sebagai berikut:
1)Kami meninjau penelitian terkait pada SDM, dan teori tuas usia sebelumnya untuk mengembangkan hipotesis untuk model SDM proses-pilihan-efektivitas terintegrasi;
2) Kami memeriksa model dan hipotesis melalui analisis empiris data dari latihan pelatihan penanganan krisis menggunakan teknologi sistem pendukung keputusan simulasi berbasis agen;
3) Kami menyajikan dan mendiskusikan hasil analisis kami dalam kaitannya dengan model dan hipotesis;
4) Kami menyimpulkan dengan diskusi tentang temuan kami bersama dengan implikasi untuk praktisi dan penelitian akademik masa depan.
PENGEMBENGAN TEORI
Pekerjaan sebelumnya oleh Dean dan Sharfman (1993, 1996) menawarkan model pengambilan keputusan yang terintegrasi, untuk membingkai studi ini tentang efektivitas proses pilihan SDM. Pekerjaan mereka meneliti asumsi yang mendasari hubungan antara proses pengambilan keputusan, pilihan respons, dan efektivitas SDM. Model ini mengusulkan bahwa variasi dalam proses pengambilan keputusan (politik atau rasional) akan menghasilkan pilihan respons yang berbeda, yang menghasilkan variasi dalam efektivitas SDM. Namun, pengujian empiris model mereka terbatas pada hubungan antara proses pengambilan keputusan politik dan rasional dan variasi dalam efektivitas saja, tidak termasuk variabel pilihan respon menengah. kami memperluas dan memeriksa model Dean dan Sharfman (1996) untuk mengklarifikasi argumen yang bertentangan dalam literatur SDM sebelumnya. Kami melakukan ini dengan memeriksa model lengkap dengan memasukkan hubungan mediasi pilihan respons melalui aplikasi kami ke konteks pengambilan keputusan yang ekstrim (respons krisis). Pendekatan kami adalah sebagai berikut:
1) Kami memperluas hubungan pengambilan keputusan strategis dan model efektifitas Dean and Sharfman (1996) dalam variasi proses, pilihan respons, dan efektifitas dengan memperluas model efektifitas mereka untuk memasukkan efek mediasi potensial dari pilihan antara; dan
2) Kami kemudian memeriksa argumen yang bersaing untuk efektivitas proses dalam konteks ini dari Fredrickson dan Mitchell (1984), Bourgeois dan Eisenhardt (1988), dan Hart (1992).
Dalam variasi model Dean dan Sharfman (1996) dalam proses pengambilan keputusan strategis (mis., Pendekatan politik atau Rasional) menghasilkan variasi dalam pilihan respons, menghasilkan variasi dalam keefektifan. Hasil efektivitas karena itu tergantung pada yang berikut:
1) Proses pengambilan keputusan strategis digunakan, dan 2) Pilihan strategi respons diterapkan. Untuk mengklarifikasi argumen dominan yang bertentangan dalam literatur untuk efektivitas proses di bawah ketidakpastian, serta menguji peran mediasi berteori pilihan, kami mengembangkan beberapa hipotesis garis-dasar untuk secara kasar konsisten dengan literatur sebelumnya.
Replicating Dean and Sharfman's (1996) model:
Hipotesis 1: Variasi dalam proses pengambilan keputusan strategis akan terkait dengan variasi
dalam efektivitas.
Meneliti sub elemen dari model Dean and Sharfman (1996) yang tersirat:
Hipotesis 2: Variasi dalam proses pengambilan keputusan strategis akan terkait dengan variasi dalam pilihan respons.
Hipotesis 3: Variasi dalam pilihan respons akan terkait dengan variasi dalam efektivitas.
Untuk menguji model lengkap seperti yang diusulkan oleh Dean dan Sharfman (1996), yang mengusulkan hubungan mediasi tetapi hanya meneliti hubungan langsung, kami membedakan antara efek langsung dari proses SDM pada efektivitas (H1) dan hubungan mediasi yang bertindak melalui pilihan respons. Sedangkan, model asli Dean dan Sharfman (1996) memiliki pilihan sebagai endogen untuk pengambilan keputusan strategis dan hubungan efektifitas, kami memodelkan pilihan respons sebagai langkah perantara dan menganggap ini sebagai perluasan dari strategi pengambilan keputusan dan hubungan efektivitas strategi. Karena itu kami menurunkan hipotesis 4 untuk menguji apakah pilihan respon memiliki efek mediasi dan langsung pada efektivitas keputusan.
Meneliti Implikasi Proses dan Pilihan untuk Efektivitas Pengambilan Keputusan Strategis
ABSTRAK
Sebagian besar pendekatan pengambilan keputusan strategis (SDM) menganjurkan pentingnya proses pengambilan keputusan dan pilihan respons untuk memperoleh hasil yang efektif. Teknologi sistem pendukung pengambilan keputusan (DMSS) modern sering juga diperlukan untuk SDM yang kompleks, dengan penelitian terbaru menyerukan pendekatan DMSS yang lebih integratif. Namun, para cendekiawan cenderung mengambil pendekatan terpecah dan tidak setuju pada apakah proses pengambilan keputusan yang rasional atau politis menghasilkan hasil keputusan yang lebih efektif. Dalam studi ini, penulis memeriksa masalah ini dengan terlebih dahulu mengeksplorasi beberapa argumen teoretis yang bersaing untuk hubungan efektivitas proses-pilihan, dan kemudian menguji hubungan ini secara empiris menggunakan data dari latihan pelatihan respons krisis menggunakan DMSS berbasis agen yang cerdas. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, temuan menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan rasional tidak efektif dalam konteks krisis, dan bahwa proses pengambilan keputusan politik dapat memengaruhi secara negatif baik pilihan respons maupun efektivitas keputusan. Hasil ini menawarkan bukti empiris untuk mengkonfirmasi argumen yang sebelumnya tidak didukung bahwa pilihan respons adalah faktor mediasi penting antara proses pengambilan keputusan dan efektivitasnya. Para penulis menyimpulkan dengan diskusi tentang implikasi dari temuan ini dan penerapan teknologi DMSS simulasi berbasis agen untuk penelitian dan praktik akademik.
PENGANTAR
Pengambilan keputusan strategis (SDM) melibatkan metode dan praktik yang digunakan organisasi untuk menafsirkan peluang dan ancaman di lingkungan dan kemudian membuat keputusan respons (Shrivastava & Grant, 1985). Teknologi modern sistem pengambilan keputusan (DMSS) sering juga diperlukan untuk SDM yang kompleks, dengan penelitian terbaru yang menyerukan pendekatan DMSS yang lebih integratif (Mora, Forgionne, Cervantes, Garido, Gupta, & Gelman, 2005; Phillips-Wren, Mora, Forgionne, & Gupta, 2009). Teknologi DMSS seperti ini menawarkan jenis platform teknologi penelitian yang kaya dan kuat dengan tingkat validitas eksternal dan internal yang tinggi serta keandalan yang diperlukan untuk dukungan keputusan terintegrasi.
Kondisi ketidakpastian di lingkungan yang sangat bergejolak (misalnya, respons krisis), pada dasarnya, semakin mempersulit proses SDM, dan dapat membatasi efektivitas pengambilan keputusan (Ramirez-Marquez & Farr, 2009). Yang menjadi masalah adalah anggapan perlunya kecepatan respon di mana logika menentukan bahwa keputusan yang memuaskan yang dibuat dengan cepat lebih unggul daripada keputusan yang optimal yang dibuat terlambat. Dua dari proses pengambilan keputusan yang paling umum diterima, dan banyak digunakan dalam konteks ini adalah perilaku politik dan rasionalitas prosedural (Fredrickson & Mitchell, 1984; Hart, 1992; Eisenhardt & Zbaracki, 1992; Dean & Sharfman, 1993; Hart & Banbury, 1994; Radner, 2000; Hough & White, 2003; Elbana & Child, 2007). Penelitian sebelumnya menganjurkan bahwa proses 'politik' akan lebih efektif dalam konteks ini, dan bahwa proses pengambilan keputusan 'rasional' akan kurang efektif di lingkungan yang tidak stabil (Fredrickson & Mitchell, 1984).
Penelitian selanjutnya mempertimbangkan efektivitas proses dalam lingkungan 'kecepatan tinggi' dan menganjurkan bahwa proses pengambilan keputusan yang rasional akan memungkinkan untuk respon yang lebih cepat dan akan lebih efektif daripada proses pengambilan keputusan politik dalam konteks ini (Bourgeois & Eisenhardt, 1988; Eisenhardt, 1989 ). Hart (1992) kemudian memperluas argumen ini untuk mengembangkan kerangka kerja untuk proses pengambilan keputusan yang melibatkan berbagai bentuk yang berasal dari basis politik atau rasional, dan juga berpendapat bahwa pendekatan 'rasional' harus berhubungan positif dengan efektivitas, sementara pendekatan yang lebih 'politis'.
Secara kolektif, literatur tentang efektivitas proses SDM ini di berbagai pengaturan bertentangan karena beberapa penelitian menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan rasional akan berhubungan positif dengan efektivitas (Bourgeois & Eisenhardt, 1988; Eisenhardt, 1989; Hart, 1992) dan proses pengambilan keputusan politik tidak akan efektif (Hart, 1992), sementara yang lain menyarankan untuk proses pengambilan keputusan politik dan melawan proses pengambilan keputusan yang rasional
(Fredrickson & Mitchell, 1984). Dengan adanya konflik ini, dan fakta bahwa perbedaan-perbedaan ini sebagian besar tidak terselesaikan secara empiris, salah satu kontribusi dari penelitian ini adalah bahwa kami menguji implikasi efektif dari proses-proses SDM politis dan rasional. Dengan melakukan itu, kami menawarkan beberapa klarifikasi dan resolusi prediksi dan temuan yang bertentangan dari Fredrickson dan Mitchell (1984), Bourgeois dan Eisenhardt (1988), dan Hart (1992). Lebih lanjut, sementara kesimpulan peran mediasi untuk pilihan respon berteori dengan baik, itu juga sebagian besar belum diuji secara empiris dalam pekerjaan sebelumnya. Oleh karena itu, kontribusi lebih lanjut dari penelitian ini adalah bahwa kami juga berusaha untuk mempertimbangkan peran mediasi pilihan ini pada efektivitas keputusan.
Dalam penelitian ini kami membahas beberapa pertanyaan penelitian khusus: 1) Apakah variasi dalam proses pengambilan keputusan menghasilkan variasi dalam pilihan respons; 2) Apakah variasi dalam pilihan jawaban menghasilkan variasi dalam efektivitas keputusan; dan 3) Bisakah kita juga melacak efektivitas berbagai proses SDM yang dimediasi melalui pilihan respons tertentu? Karena manajemen dapat memengaruhi proses SDM, pertanyaan ketiga cenderung lebih menarik daripada pertanyaan kedua. Namun, jika kita hanya melihat hubungan langsung antara proses SDM dan efektivitas (mis., Dean & Sharfman, 1996), kita mungkin mengaitkan perbedaan dalam efektivitas dengan proses variasi ketika variasi ini tidak benar-benar mempengaruhi pilihan. Dengan demikian, kita perlu cukup membedakan proses SDM mana yang lebih efektif dalam situasi ini dan menghasilkan hasil yang paling efektif. Mengatasi pertanyaan-pertanyaan ini membantu untuk mengklarifikasi pengaruh proses dan pilihan yang terintegrasi pada efektivitas pengambilan keputusan strategis.
Makalah ini menghasilkan sebagai berikut:
1)Kami meninjau penelitian terkait pada SDM, dan teori tuas usia sebelumnya untuk mengembangkan hipotesis untuk model SDM proses-pilihan-efektivitas terintegrasi;
2) Kami memeriksa model dan hipotesis melalui analisis empiris data dari latihan pelatihan penanganan krisis menggunakan teknologi sistem pendukung keputusan simulasi berbasis agen;
3) Kami menyajikan dan mendiskusikan hasil analisis kami dalam kaitannya dengan model dan hipotesis;
4) Kami menyimpulkan dengan diskusi tentang temuan kami bersama dengan implikasi untuk praktisi dan penelitian akademik masa depan.
PENGEMBENGAN TEORI
Pekerjaan sebelumnya oleh Dean dan Sharfman (1993, 1996) menawarkan model pengambilan keputusan yang terintegrasi, untuk membingkai studi ini tentang efektivitas proses pilihan SDM. Pekerjaan mereka meneliti asumsi yang mendasari hubungan antara proses pengambilan keputusan, pilihan respons, dan efektivitas SDM. Model ini mengusulkan bahwa variasi dalam proses pengambilan keputusan (politik atau rasional) akan menghasilkan pilihan respons yang berbeda, yang menghasilkan variasi dalam efektivitas SDM. Namun, pengujian empiris model mereka terbatas pada hubungan antara proses pengambilan keputusan politik dan rasional dan variasi dalam efektivitas saja, tidak termasuk variabel pilihan respon menengah. kami memperluas dan memeriksa model Dean dan Sharfman (1996) untuk mengklarifikasi argumen yang bertentangan dalam literatur SDM sebelumnya. Kami melakukan ini dengan memeriksa model lengkap dengan memasukkan hubungan mediasi pilihan respons melalui aplikasi kami ke konteks pengambilan keputusan yang ekstrim (respons krisis). Pendekatan kami adalah sebagai berikut:
1) Kami memperluas hubungan pengambilan keputusan strategis dan model efektifitas Dean and Sharfman (1996) dalam variasi proses, pilihan respons, dan efektifitas dengan memperluas model efektifitas mereka untuk memasukkan efek mediasi potensial dari pilihan antara; dan
2) Kami kemudian memeriksa argumen yang bersaing untuk efektivitas proses dalam konteks ini dari Fredrickson dan Mitchell (1984), Bourgeois dan Eisenhardt (1988), dan Hart (1992).
Dalam variasi model Dean dan Sharfman (1996) dalam proses pengambilan keputusan strategis (mis., Pendekatan politik atau Rasional) menghasilkan variasi dalam pilihan respons, menghasilkan variasi dalam keefektifan. Hasil efektivitas karena itu tergantung pada yang berikut:
1) Proses pengambilan keputusan strategis digunakan, dan 2) Pilihan strategi respons diterapkan. Untuk mengklarifikasi argumen dominan yang bertentangan dalam literatur untuk efektivitas proses di bawah ketidakpastian, serta menguji peran mediasi berteori pilihan, kami mengembangkan beberapa hipotesis garis-dasar untuk secara kasar konsisten dengan literatur sebelumnya.
Replicating Dean and Sharfman's (1996) model:
Hipotesis 1: Variasi dalam proses pengambilan keputusan strategis akan terkait dengan variasi
dalam efektivitas.
Meneliti sub elemen dari model Dean and Sharfman (1996) yang tersirat:
Hipotesis 2: Variasi dalam proses pengambilan keputusan strategis akan terkait dengan variasi dalam pilihan respons.
Hipotesis 3: Variasi dalam pilihan respons akan terkait dengan variasi dalam efektivitas.
Untuk menguji model lengkap seperti yang diusulkan oleh Dean dan Sharfman (1996), yang mengusulkan hubungan mediasi tetapi hanya meneliti hubungan langsung, kami membedakan antara efek langsung dari proses SDM pada efektivitas (H1) dan hubungan mediasi yang bertindak melalui pilihan respons. Sedangkan, model asli Dean dan Sharfman (1996) memiliki pilihan sebagai endogen untuk pengambilan keputusan strategis dan hubungan efektifitas, kami memodelkan pilihan respons sebagai langkah perantara dan menganggap ini sebagai perluasan dari strategi pengambilan keputusan dan hubungan efektivitas strategi. Karena itu kami menurunkan hipotesis 4 untuk menguji apakah pilihan respon memiliki efek mediasi dan langsung pada efektivitas keputusan.
Memeriksa model Dean and Sharfman (1996):
Hipotesis 4: Variasi dalam proses pengambilan keputusan strategis dan variasi dalam pilihan respons akan terkait dengan variasi dalam efektivitas.
Untuk memeriksa konflik dalam literatur tentang inkonsistensi di antara Fred-rickson dan Mitchell (1984) dan Bourgeois dan Eisenhardt (1988) proposisi untuk lingkungan yang tidak pasti dan berkecepatan tinggi, serta proposisi Hart (1992) untuk efektivitas berdasarkan jenis proses pengambilan keputusan, kami mengembangkan hipotesis 5a dan 5b:
Hipotesis 5a: Dalam lingkungan yang sangat bergejolak, proses pengambilan keputusan rasional harus berhubungan positif dengan efektivitas, sedangkan proses pengambilan keputusan politik tidak boleh memiliki hubungan positif dengan efektivitas (Bourgeois & Eisenhardt, 1988; Hart, 1992).
Hipotesis 5b: Dalam lingkungan yang sangat bergejolak, proses pengambilan keputusan yang rasional harus berhubungan negatif dengan efektivitas, sedangkan proses pengambilan keputusan politik harus memiliki hubungan positif dengan efektivitas (Fredrickson & Mitchell, 1984).
PERTIMBANGAN ANALITIS
Konteks Studi
Peristiwa krisis (mis., Bencana alam, terorisme, dll.) Adalah lingkungan yang ditandai oleh berbagai tingkat turbulensi dan ambiguitas (Komisi Nasional untuk Serangan Teroris, 2004). Sementara organisasi pemerintah berbeda dari yang ada di sektor swasta, penelitian di bidang manajemen tentang SDM mungkin berlaku untuk organisasi pemerintah yang berurusan dengan peristiwa krisis. Misalnya, tugas inti organisasi adalah menciptakan dan / atau memelihara kesesuaian antara kekuatan dan kemampuan internal organisasi dan tuntutan yang diberikan kepada mereka oleh lingkungan mereka. Organisasi pemerintah juga harus memanfaatkan sumber daya dan kemampuan unik di berbagai departemen dan tingkat pemerintahan untuk merespons tantangan di lingkungan mereka.
Demikian pula, tingkat turbulensi dan ambiguitas hadir dalam lembaga pemerintah lingkungan operasi juga dapat menjadi kontributor langsung terhadap kesulitan yang melekat pada SDM dalam konteks ini. Sifat tekanan lingkungan, kekeruhan, dan implikasi hasil menjadikan ini lingkungan operasi yang unik dan menantang. Pekerjaan terkait sebelumnya pada topik ini dari bidang lain termasuk pengembangan strategi pertahanan tanah air untuk Gedung Putih (USDHS, 2004), pemodelan wabah penyakit (Rvachev & Longini, 1985; Kuhr & Hauer, 2001; Kaplan, Craft, & Wein , 2002, 2003; Eubank, Guclu, Kumar, Marathe, Srinivasan, Toroczal, & Wang, 2004; Craft, Wein, & Wilkins, 2005). Penggunaan lebih lanjut telah mencakup banyak publikasi akademis, pemerintah, dan praktisi mengenai epidemiologi, respons terorisme, dan strategi pertahanan dan keamanan tanah air (Deutsch, 1963; Hoffman, 1981; Waugh & Sylves, 2002; Ramirez-Marquez & Farr, 2009).
DATA SAMPEL
Kami menguji model dan hipotesis kami menggunakan data yang dikumpulkan dari pendekatan multi-langkah yang terdiri dari percobaan (latihan pelatihan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS yang disebut Respon Terukur (MR)) bersamaan dengan simulasi berbasis agen yang cerdas. Kami menggunakan data ini untuk menguji model Dean dan Sharfman (1996) yang diperluas dan hipotesis terkait untuk variasi dalam proses, pilihan, dan efektivitas SDM. Kami menggunakan pendekatan metodologis eksperimen eksperimental untuk melakukan ini. Pendekatan ini terdiri dari dua langkah: 1) Menggunakan instrumen survei yang divalidasi untuk mengumpulkan data tentang proses strategi dan pilihan dari percobaan laboratorium dengan praktisi yang sebenarnya dikelompokkan ke dalam beberapa tim tanggapan; dan
2) Simulasi berbasis agen intelijen digunakan dalam latihan untuk menghasilkan data tentang efektivitas proses SDM kelompok dan pilihan respons.
Kami menguji model kami dan hipotesisnya melalui analisis empiris dari sub sampel dari 268 pengamatan gabungan dari survei dan data simulasi yang dikumpulkan dari latihan. Latihan Respons Terukur. Latihan pelatihan MR Homeland Security terdiri dari sembilan tim agen manusia yang masing-masing terdiri dari tiga hingga lima orang (mewakili tanggung jawab fungsional aktual mereka dalam kebanyakan kasus) untuk memainkan peran Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (DHHS), dan Transportasi (DT) di tingkat lokal, negara bagian, dan federal. Agen manusia ini beroperasi di lingkungan "Pusat Operasi Gabungan" di mana mereka dapat melaksanakan berbagai keputusan dan merespons secara interaktif terhadap perubahan dalam lingkungan yang disimulasikan selama latihan.
Model Simulasi. Latihan Pelatihan Respon yang Terukur memanfaatkan lingkungan sintetis sebagai teknologi sistem pendukung keputusan untuk latihan tersebut. Sistem ini menggunakan lingkungan simulasi komputer virtual dinamis untuk mensimulasikan wabah dan dispersi agen biologis pada kota menengah di Amerika Serikat. Wabah ini mempengaruhi puluhan ribu agen intelijen berbasis komputer. Agen-agen ini memperkirakan keragaman karakteristik perilaku dan demografi populasi model yang sebenarnya untuk kota. Selain itu, kami menggunakan data spesifik patogen dari Centers for Disease Control (CDC) dalam model simulasi untuk memastikan serangan terjadi secara realistis pada populasi virtual agen cerdas. Selanjutnya, aspek organisasi dari model simulasi menggabungkan data dari rencana respon DHS dan CDC yang sebenarnya. Oleh karena itu, skenario yang disimulasikan mereplikasi karakteristik sebenarnya dari serangan dunia nyata di mana proses pengambilan keputusan dan pilihan strategi tanggapan dapat secara signifikan mempengaruhi hasil dalam hal tingkat infeksi, penyebaran penyakit menular, tingkat kematian populasi, dan suasana hati publik.
Mengingat faktor-faktor ini, jenis-jenis teknologi sistem pendukung keputusan ini menawarkan lingkungan simulasi yang kaya dan dinamis, yang sebagian besar meredakan kekhawatiran umum yang sebelumnya terkait dengan penggunaan alat simulasi homegrown atau off-the-shelf simulasi sederhana dalam penelitian akademik (Linebarger et al., 2009; Mostashari & Sussman, 2009). Secara khusus, latihan pelatihan kami menggunakan ribuan keputusan peserta yang berbeda pada berbagai tim, secara level yang berganda, yang memengaruhi ribuan agen berbasis komputer yang merespons secara dinamis input partisipan kolektif, serta perilaku respons masing-masing agen terhadap input (Lihat Chaturvedi, Mehta, & Drnevich, 2005; Harton, Lin, Carroll, & Carley , 2007 untuk lebih detail tentang pemodelan simulasi). Selain itu, kriteria yang bertentangan mencegah peserta latihan dari "bermain" sistem dan mendorong beberapa langkah efektivitas. Dengan demikian jenis teknologi sistem pendukung keputusan ini menawarkan jenis platform teknologi penelitian yang kaya dan kuat dengan tingkat validitas eksternal dan internal yang tinggi serta keandalan yang diperlukan untuk dukungan keputusan terintegrasi (Liu et al., 2009; Linebarger et al., 2009 ; Mostashari & Sussman,
2009).
Pengukuran
Variabel dependen. Variabel dependen dalam penelitian kami terdiri dari ukuran komposit terintegrasi untuk efektivitas keputusan. Pendekatan ini konsisten dengan penelitian terbaru yang mengadvokasi proses terintegrasi dan ukuran hasil untuk evaluasi sistem pendukung pengambilan keputusan (Mora et al., 2005; Phillips-Wren et al., 2009). Sementara tujuan keputusan adalah untuk menahan atau mengendalikan wabah dan meminimalkan kematian, kebutuhan untuk mempertahankan tingkat suasana hati yang dapat diterima mempersulit tujuan ini. Oleh karena itu para pembuat keputusan harus mempertimbangkan hasil dari pilihan keputusan mereka dalam hal mengandung wabah dan dampak pada suasana hati publik. Kami mewakili implikasi efektivitas ini melalui variabel dependen terintegrasi dalam model, yang terdiri dari ukuran efektivitas keputusan komposit tertimbang standar dari total jumlah nyawa yang diselamatkan (disebut "TLS") dan peningkatan mood publik (disebut "PMI"). ”), Untuk menangkap trade-off dalam pengambilan keputusan. Kami melabeli efektivitas keputusan variabel tidak tetap ini (disebut "DE"). Kami membangun ukuran untuk efektivitas keputusan melalui membandingkan hasil simulasi yang dihasilkan selama latihan, dengan langkah-langkah garis dasar dari simulasi yang dihasilkan dalam kondisi tanpa intervensi setelah menghitung TLS dan PMI. Secara khusus, kami mengukur efektivitas responden sebagai perbedaan antara kinerja mereka dan skenario terburuk (tidak ada tanggapan). Kami kemudian membangun ukuran kami untuk efektivitas keputusan (DE) dari komposit tertimbang (berdasarkan bias responden terhadap masalah kesehatan atau politik) dari nilai-nilai standar dari tindakan TLS dan PMI. Kami melakukan ini untuk menangkap trade-off dalam pengambilan keputusan yang melekat dalam tanggapan terhadap bio-terorisme (penanggulangan wabah versus mood publik). Bobot untuk ukuran komposit ditentukan melalui langkah-langkah survei, yang meminta para peserta prioritas pengambilan keputusan dalam hal pertimbangan masalah kesehatan dan politik dalam proses pengambilan keputusan. Kami mengukur masalah ini relatif terhadap tim dan level pembuat keputusan, dan mempertimbangkan pentingnya nilai standar masing-masing dari TLS dan PMI untuk menentukan nilai untuk ukuran efektivitas pengambilan keputusan (DE) relatif terhadap setiap level.
Variabel independen. Variabel independen dalam penelitian kami terdiri dari proses pengambilan keputusan strategis, dan pilihan strategi karantina. Variabel proses strategi terdiri dari ukuran proses pengambilan keputusan yang dirancang untuk membedakan rasio prosedural (disebut "PR") dan perilaku politik (disebut "PB") proses keputusan. Kami mengukur variabel-variabel ini melalui pertanyaan pada instrumen survei yang didasarkan pada pertanyaan asli Dean dan Sharfman (1993, 1996) yang memanfaatkan pendekatan mereka (diukur melalui beberapa pertanyaan tervalidasi pada instrumen survei menggunakan skala Likert, lihat lampiran dan Dean dan Sharfman 1993 dan 1996 untuk perincian lebih lanjut). Pilihan respons dalam latihan terdiri dari opsi untuk strategi karantina. Pilihan respons strategi karantina termasuk tidak ada karantina (disebut "NQ"), pendekatan karantina pasif berdasarkan blok kota (disebut "CBQ"), dan mengerahkan militer untuk pendekatan karantina yang lebih ekstrem (disebut "EQ"). Kami mengukur pilihan respons ini sebagai input keputusan untuk simulasi tentang langkah-langkah untuk pilihan respons strategi karantina (disebut "SC"). Kami mengkode variabel-variabel ini dari data input simulasi pada lima titik skala Likert, yang berkisar dari paling ketat (1) hingga paling ketat (5). Kami mengumpulkan langkah-langkah survei melalui instrumen kertas yang diberikan pada lima periode waktu yang sama sebelum, selama, dan setelah lima putaran latihan. Variabel kontrol. Variabel kontrol dalam penelitian kami mencakup langkah-langkah untuk mengendalikan potensi tingkat pemerintah dan afiliasinya di departemen, serta kecenderungan peserta sebelumnya terhadap masalah kesehatan dan politik. Kami menyertakan variabel kontrol ini jika ada kesamaan dalam proses SDM atau preferensi pilihan tanggapan yang mungkin ada di antara tingkat pemerintah tertentu atau di antara lembaga pemerintah tertentu. Kami lebih lanjut mengontrol untuk kepindahan peserta sebelumnya ke masalah kesehatan dan politik untuk memeriksa untuk melihat apakah faktor-faktor alternatif mungkin mendorong proses keputusan atau preferensi pilihan. Kami menggambarkan variabel yang digunakan dalam penelitian ini dan
langkah-langkah mereka pada Tabel 1.
PROSEDUR ANALITIS
Mengikuti pengkodean dan kompilasi data sampel kami, kami melakukan pemeriksaan untuk data yang hilang, validitas wajah, dan multikolinearitas. Pemeriksaan ini mengonfirmasi bahwa sampel tampak dapat digunakan dan bahwa data berada dalam parameter yang diharapkan. Lebih lanjut, pemeriksaan untuk multikolinear mengungkapkan beberapa korelasi kecil antar variabel, seperti yang kami harapkan, yang berhubungan dengan sifat variabel yang diteliti dan ukurannya. Kami mencantumkan statistik deskriptif dan korelasi langkah-langkah ini pada Tabel 2.
Selanjutnya, untuk menguji hipotesis kami, mengingat potensi autokorelasi dengan kumpulan data, kami menggunakan model campuran desain tindakan berulang. Karena ukuran variabel dependen kami berasal sebagai data kontinu dengan distribusi normal (yang kemudian kami distandarisasi sebelum analisis), kami melakukan analisis kami menggunakan prosedur MIXED dengan kontrol untuk kovarians di SAS. Karena beberapa variabel independen kami juga melibatkan ukuran skala likert, model linier campuran umum (mis., Prosedur NLMIXED atau GLIMMIX di SAS) juga dipertimbangkan (analisis tambahan)
dengan prosedur ini tidak mengungkapkan hasil yang sangat berbeda di antara prosedur). Prosedur campuran dalam SAS memungkinkan analisis tindakan berulang yang benar untuk mengatasi potensi autokorelasi. Dalam melakukan hal itu, kami menggunakan tingkat pemerintahan sebagai efek tetap yang memungkinkan kami menilai model dengan lebih ketat serta membandingkan tingkat kesesuaian antara model langsung dan yang dimediasi. Dalam melakukannya, setelah terlebih dahulu menguji variabel kontrol kami (model 1 dan 3), dalam model 4 kami menguji apakah efektivitas merupakan fungsi dari proses pengambilan keputusan strategis (Hipotesis 1). Selanjutnya, dalam model 2, kami menguji apakah pilihan respons adalah fungsi dari proses pengambilan keputusan strategis (Hipotesis 2), dan dalam model 5, apakah efektivitas adalah fungsi dari pilihan respons (Hipotesis 3). Setelah pengujian regresi untuk hipotesis ini, kami menggunakan hasil model untuk menguji peran langsung versus mediasi dari proses pengambilan keputusan pada pilihan dan efektivitas. Kami kemudian membuat perbandingan antara hubungan langsung proses pada efektivitas, dan pilihan pada efektivitas, dan hubungan proses mediasi, bekerja melalui pilihan, pada efektivitas keputusan. Melalui hipotesis 4 kami menguji model jalur penuh untuk menentukan apakah pilihan respons menyediakan hubungan mediasi antara proses dan efektivitas SDM, atau jika efek langsung proses SDM pada efektivitas cukup memadai tanpa hubungan mediasi. Akhirnya, kami berusaha untuk mengklarifikasi konflik dalam literatur sebelumnya mengenai harapan efektivitas proses SDM rasional atau politik dalam konteks kami saat ini. Kami memeriksa konflik ini melalui hipotesis 5a dan 5b. Kami memberikan ikhtisar hasil analisis ini pada Tabel 3, dan membahas hasil ini di bagian berikut.
HASIL DISKUSI
Secara keseluruhan, ketika kami menganalisis jalur langsung dari model penuh (Proses Efektivitas) terhadap jalur tidak langsung (Proses melalui Pilihan pada Efektivitas) kami mengamati bahwa efektivitas memang tampak memediasi proses melalui pilihan. Kami membahas hasil ini dalam rincian spesifik, sehubungan dengan hipotesis kami di bawah ini.
PENGUJIAN HIPOTESIS
Dalam Hipotesis 1, kami menguji apakah variasi dalam proses SDM berhubungan langsung dengan variasi dalam efektivitas. Kami mengamati dukungan untuk Hipotesis l dalam model 4; karena koefisien untuk perilaku politik negatif dan signifikan (lihat Tabel 3). Selanjutnya, dalam Hipotesis 2, kami memeriksa sub-elemen model dalam hal apakah variasi dalam proses SDM berkaitan dengan variasi dalam pilihan respons. Kami mengamati hanya dukungan marjinal untuk Hipotesis 2 dalam model 2, karena koefisien untuk perilaku politik negatif dan sedikit signifikan, sedangkan koefisien untuk rasionalitas prosedural positif dan sedikit signifikan (lihat Tabel 3). Lebih lanjut, dalam Hipotesis 3, kami memeriksa apakah pilihan jawaban signifikan dalam menjelaskan efektivitas. Kami gagal mengamati dukungan untuk hipotesis 3 dalam model 5, karena koefisien untuk pilihan respons strategis negatif dan tidak signifikan (lihat Tabel 3). Dalam Hipotesis 4 kami memeriksa jalur penuh (model 6), untuk menentukan apakah pilihan respon menyediakan hubungan mediasi antara proses SDM dan efektivitas, atau jika efek langsung dari proses SDM pada efektivitas (model 4) cukup tanpa memediasi hubungan. Kami mengamati dukungan parsial untuk Hipotesis 4 karena model 6 menunjukkan koefisien negatif untuk pilihan, serta koefisien negatif dan signifikan untuk perilaku politik. Selain itu, kami mengamati peningkatan goodness of fit dalam model 6, yang menawarkan beberapa dukungan tambahan untuk Hipotesis 4 di samping koefisien signifikansi sedikit untuk pilihan dalam model (lihat Tabel 3). Selanjutnya, untuk menguji secara efektif peran mediasi yang tampak dari pilihan respons pada hubungan antara proses SDM dan efektivitas, Baron dan Kenny (1986) menunjukkan bahwa untuk membangun mediasi, beberapa kondisi harus dipegang. Kondisi ini sesuai dengan menemukan hubungan yang signifikan dalam model 4, dan 6. sekutu hubungan yang signifikan dalam model ini, kami menyimpulkan bahwa pilihan respon memediasi hubungan antara proses SDM dan efektivitas. Selain itu, ketika kami menganalisis jalur langsung dan tidak langsung, jalur tidak langsung melalui pilihan respons signifikan dan kurang negatif untuk perilaku politik (lihat Gambar 1). Karena itu ketika pilihan respons menengahi hubungan, ini berarti bahwa pilihan respons memiliki peran dalam mempengaruhi efektivitas SDM. Temuan ini mendukung termasuk variabel pilihan respons dalam model dan tampaknya menawarkan perpanjangan, dan dukungan empiris untuk karya Dean dan Sharfman (1993, 1996).
Selanjutnya, melalui Hipotesis 5a dan 5b, kami berusaha untuk mengklarifikasi konflik dalam literatur sebelumnya mengenai harapan bersaing dari proses pengambilan keputusan rasional atau politik yang efektif dalam konteks kami saat ini. Dalam Hipotesis 5a kami berpendapat bahwa pengambilan keputusan rasional proses akan berhubungan positif dengan efektivitas SDM (Bourgeois & Eisenhardt, 1988), dan diharapkan efek non-positif untuk proses pengambilan keputusan politik (Hart, 1992). Dalam model 4, koefisien untuk rasio prosedural adalah positif, tetapi tidak signifikan, dan koefisien untuk perilaku politik negatif dan signifikan (lihat Tabel 3). Demikian juga, dalam model 6, koefisien untuk rasionalitas prosedural positif, tetapi tidak signifikan, dan koefisien untuk perilaku politik negatif dan signifikan. Lebih lanjut, dalam analisis jalur (Gambar 1), efektivitas perilaku politik yang direnungkan adalah signifikan, dan efek dari jalur yang dimediasi adalah positif bila dibandingkan dengan jalur langsung.
Dengan demikian, kami menyimpulkan bahwa kami gagal untuk mengamati dukungan untuk Hipotesis 5a. Oleh karena itu, hasil kami tampak konsisten dengan argumen Hart (1992) yang mengatakan perilaku politik tidak akan positif, sementara mereka tampaknya bertentangan dengan argumen Bourgeois dan Eisenhardt (1988), yang menganjurkan bahwa proses rasional akan menjadi positif dan signifikan. Dalam Hipotesis 5b kami berpendapat bahwa proses pengambilan keputusan yang rasional akan berhubungan negatif dengan efektivitas SDM, dan diharapkan efek positif untuk proses pengambilan keputusan politik (Frederickson & Mitchell, 1984). Namun, dalam model 4 dan 6, kami mengamati koefisien positif tetapi tidak signifikan untuk rasionalitas prosedural. Selanjutnya, kami juga mengamati koefisien negatif dan signifikan untuk perilaku politik dalam model 4 dan 6 (lihat Tabel 3). Oleh karena itu kami juga gagal untuk mengamati dukungan untuk Hipotesis 5b, yang bertentangan dengan argumen Frederickson dan Mitchell (1984) yang menganjurkan penggunaan proses tipe politik dalam konteks ini, dan bahwa proses pengambilan keputusan rasional akan memiliki hubungan negatif dengan efektivitas di lingkungan yang tidak stabil.
KESIMPULAN
Dalam makalah ini kami menguji implikasi dari argumen yang bersaing untuk efektivitas proses pengambilan keputusan, dengan memasukkan peran mediasi berteori, tetapi kurang diteliti untuk pilihan respon, dalam konteks pengambilan keputusan sektor publik dalam kondisi ketidakpastian (mis., respons krisis). Dalam melakukannya, kami menggunakan teknologi DMSS untuk mengembangkan perpanjangan model keputusan sebelumnya (Dean & Sharfman, 1993, 1996) dengan hipotesis terkait untuk proses SDM, pilihan, dan efektivitas. Kami memeriksa model yang diperluas menggunakan data yang dikumpulkan melalui pendekatan eksperimen komputasi yang melibatkan eksperimen dengan pembuat keputusan aktual (pegawai pemerintah federal, negara bagian, dan lokal), dan sistem pendukung keputusan simulasi berbasis agen yang mapan dan tervalidasi (Chaturvedi et. al., 2005; Harrison et al., 2007).
Implikasi Penelitian
Salah satu implikasi penelitian dari penelitian ini melibatkan perluasan dan perluasan karya Dekan dan Sharfman (1993, 1996) serta klarifikasi prediksi yang bersaing untuk efektivitas proses SDM. Temuan kami tentang dukungan empiris untuk model Dean dan Sharfman (1996) yang diperluas menunjukkan bahwa pilihan respons mungkin memainkan peran mediasi penting dalam hubungan antara proses SDM dan efektivitas. Temuan ini penting karena jika kita hanya melihat efek dari proses keputusan pada efektivitas, seperti penelitian sebelumnya (Dean & Sharfman, 1993, 1996), kita mungkin menghubungkan perbedaan dalam efektivitas SDM dengan variasi proses yang tidak benar-benar mempengaruhi pilihan respons dan karenanya tidak secara langsung mendorong efektivitas. Kedua, pengembangan model Dean dan Sharfman (1996) untuk lingkungan yang kompleks dan bergejolak mengindikasikan penerapan model tersebut ke konteks ekstrem, di luar konteks yang lebih stabil di mana ia awalnya dikembangkan. Pengamatan ini menunjukkan dukungan lebih lanjut untuk kekokohan dan penerapan argumen dan model Dean dan Sharfman (1993, 1996).
Lebih lanjut, kami mengklarifikasi konflik yang belum terselesaikan dalam literatur tentang efektivitas proses SDM dalam lingkungan yang bergolak, menggemakan panggilan dalam penelitian terbaru untuk pendekatan DMSS yang lebih integratif (Mora et al., 2005; Phillips-Wren et al., 2009). Hasil analisis kami tampaknya mendukung Hart (1992) yang menganjurkan efek negatif dari proses perilaku politik dalam konteks tersebut. Namun, pengamatan kami bertentangan dengan karya Bourgeois dan Eisenhardt (1988), yang menganjurkan proses rasional, serta orang-orang dari Frederickson dan Mitchell (1984) yang menganjurkan proses tipe politik dalam konteks ini. Berdasarkan penelitian kami saat ini, sementara kami tidak dapat mengadvokasi manfaat dari memanfaatkan proses pengambilan keputusan yang rasional (Bourgeois & Eisenhardt, 1988), kami menyimpulkan bahwa proses pengambilan keputusan politik benar-benar tampak melemahkan efektivitas SDM (Hart, 1992). Temuan ini dapat memiliki implikasi manajerial yang menarik untuk praktik dalam respon krisis dan berpotensi konteks analog lainnya.
Implikasi Manajerial
Dalam hal implikasi manajerial, kami berusaha untuk membedakan pilihan respons mana yang paling efektif dalam konteks ini dan proses pengambilan keputusan mana yang menghasilkan respons yang lebih efektif. Mengingat sifat kritis pengambilan keputusan di bawah ketidakpastian yang tinggi dan risiko dalam konteks kami, kami memendam kekhawatiran bahwa saat ini mengamati proses SDM dalam praktiknya (seringkali politis) mungkin kurang optimal dan bahkan merusak keefektifan. Sebagai contoh, kami berharap bahwa tindakan karantina menjadi lebih membatasi, kita akan menyelamatkan lebih banyak nyawa, tetapi bahwa kita akan memengaruhi suasana hati publik sehingga pembuat keputusan akan ragu untuk membuat pilihan ini. Namun, kami menemukan bahwa dalam konteks dan durasi latihan ini, tindakan karantina yang lebih ketat sebenarnya dapat mempengaruhi baik jumlah total nyawa yang diselamatkan maupun suasana hati publik. Pemeriksaan lebih lanjut dari temuan ini mengungkapkan bahwa pengamatan ini mungkin disebabkan oleh efek lokal jangka pendek dari strategi karantina agresif, yang sangat ketat, dan mungkin berpotensi membatasi subyek sehat ke area yang terkontaminasi sehingga menjadikan mereka terinfeksi. Dalam jangka pendek, ini akan mengurangi jumlah nyawa yang diselamatkan dan suasana hati publik dibandingkan dengan strategi karantina yang kurang ketat. Namun, dalam jangka waktu yang lebih lama, strategi karantina yang sangat restriktif secara teoritis masih harus lebih efektif daripada yang kurang restriktif dalam hal total nyawa yang diselamatkan di tingkat negara bagian dan nasional, karena strategi tersebut harus membantu mencegah peristiwa lokal menjadi epidemi yang meluas. Akhirnya, pengamatan ini memberikan wawasan tentang kompleksitas SDM dalam konteks ini, dalam hal ini mungkin penting untuk menerapkan tanggapan skrining dan evakuasi, dalam hubungannya dengan respon karantina, untuk mencoba mengurangi dampak buruk dari strategi quar-antine kepada subyek sehat dalam zona penahanan.
Keterbatasan dan Penelitian Masa Depan
Keterbatasan. Penelitian ini tunduk pada sejumlah keterbatasan potensial, yang harus dipertimbangkan ketika menafsirkan temuan dan pengamatan kami. Keterbatasan potensial pertama adalah ukuran sampel (268 pengamatan dari satu percobaan). Penelitian di masa depan pada konstruksi ini dan hubungan mereka dalam konteks ini mungkin ingin memanfaatkan sampel yang lebih besar selama periode waktu yang lebih lama. Kedua, mengingat perlunya mempertahankan realisme dari latihan pelatihan keamanan tanah air dan untuk memanfaatkan pembuat keputusan dalam peran kehidupan nyata mereka, kami tidak dapat secara acak menugaskan kelompok perawatan kami. Ketiga, sementara kami berusaha untuk mengontrol disposisi sebelumnya dari peserta percobaan terhadap masalah politik atau kesehatan, itu masih mungkin bahwa faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi proses SDM, pilihan respons, dan efektivitasnya. Keempat, ada juga kemungkinan penjelasan alternatif lain untuk pengamatan penelitian ini, yang juga bisa menjadi penjelasan yang masuk akal untuk beberapa hasil. Penemuan masa depan. Studi ini menimbulkan beberapa pertanyaan penting yang mungkin memiliki banyak implikasi untuk penelitian di bidang manajemen dan kebijakan publik. Beberapa dari pertanyaan ini adalah: Bagaimana proses politik tidak disarankan, dan bagaimana kita dapat mengurangi dampaknya yang merugikan; dan sampai sejauh mana kecenderungan terhadap proses pengambilan keputusan memengaruhi pilihan respons dan / atau efektivitas SDM? Secara khusus, kami menyarankan penelitian lebih lanjut mengenai dampak proses pengambilan keputusan, dan peran mediasi dari pilihan respons, baik dalam pengaturan sektor publik maupun swasta di bawah kondisi risiko tinggi dan ketidakpastian.
KESIMPULAN
Melalui tulisan ini, kami menunjukkan pentingnya pilihan respons sebagai faktor mediasi dalam proses SDM - hubungan efektivitas. Selanjutnya, kami telah menggambarkan bahwa teori, model, dan metode yang dikembangkan melalui penelitian di bidang manajemen dapat berlaku untuk konteks lain yang lebih bergejolak seperti respons krisis sektor publik (Hoffman, 1981; Green & Kolesar, 2004). Kami berharap pekerjaan kami dapat memberikan beberapa motivasi untuk penelitian lebih lanjut tentang efektivitas SDM serta penerapan penelitian manajemen dan model untuk pengaturan yang tidak konvensional seperti terorisme dan respons krisis.
Dalam hal proses SDM mana yang tampak paling efektif, kami menyimpulkan bahwa secara keseluruhan, sementara kami gagal menemukan dukungan untuk proses pengambilan keputusan yang rasional, efek dari pendekatan politik secara signifikan lebih negatif terhadap efektivitas dalam konteks kami saat ini. Lebih lanjut, temuan utama bahwa pilihan respons dapat memediasi beberapa hubungan antara proses SDM dan efektivitas berpotensi cukup penting. Temuan ini menunjukkan bahwa proses itu sendiri mungkin tidak cukup untuk menjelaskan keefektifan, tetapi lebih merupakan efek majemuk dari proses pengambilan keputusan dan pilihan respons yang penting untuk efektivitas tanggapan. Kami berharap bahwa temuan ini dapat memberikan beberapa wawasan untuk penelitian dan praktik masa depan untuk meningkatkan efektivitas SDM, dan menunjukkan kegunaan teknologi DMSS untuk lingkungan seperti itu (Mora et al., 2005; Phillips-Wren et al., 2009; Ramirez- Marquez & Farr, 2009), sambil berharap secara penuh meningkatkan kemungkinan respons efektif terhadap peristiwa aktual.
PENGAKUAN
1) Penelitian ini sebagian didanai oleh hibah NSF DDDAS # CNS-0325846
2) Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada mantan direktur DHS Negara Bagian Indiana Eric Dietz, Purdue Homeland Security Institute (PHSI) dan mantan direktur Tim Collins, dan staf Tejas Bhatt dan Chih-Hui Hsieh secara khusus atas bantuan mereka yang luas dengan pengumpulan, persiapan , dan analisis data simulasi dari latihan Respon Terukur.
Langganan:
Komentar (Atom)
